DZAT ALLAH

RENUNGAN QALBU

          *DZAT ALLAH*

Albert Eistein sang penemu teori Relativitas  mengatakan bahwa di dunia ini kecepatan tertinggi adalah CAHAYA, tidak ada kecepatan di atas cahaya. Kalau ada sesuatu yang kecepatannya melebihi cahaya pastilah benda tersebut memiliki massa 0 ( NOL ) dan tidak memerlukan waktu. Benda itu ada di setiap waktu dari AWAL sampai AKHIR. Benda itu pasti berwujud, ada dimana-mana, tampak namun juga tidak tampak.

Einsten sebenarnya tanpa sadar sedang menjelaskan tentang DZAT yang tidak berawal dan berakhir, ada dimana mana, meliputi segalanya, tampak dan berwujud sekaligus tidak tampak, sebagaimana disebut dalam QS  An Nur 35:  sebagai “Cahaya di atas Cahaya”.

Tidak satu pun di alam ini bisa menjangkau Dzat Nya yang Maha Mutlak, segala sesuatu yang bukan berasal dari diri Nya akan otomatis tertolak.

Karena Rahman dan Rahim Allah, maka Dia mengirim utusan Nya. Yang dimaksud utusan tentu saja bukan sosok manusia, karena manusia memiliki sifat terbatas dan manusia bukan berasal dari unsur2 Nya.
Utusan yang dimaksud tentu saja “Cahaya di atas cahaya,   AL WASILAH”, atau dalam kitab2 Tasawuf klasik di sebut NUR MUHAMMAD yang berasal dari Cahaya Nya sendiri.

Ketika cahaya tersebut di  “install” ke dalam diri anak Abdullah yang buta huruf di tanah Arab 1500 tahun yang lalu, maka berubahlah Muhammad bin Abdullah menjadi Muhammad Rasulullah, yang nama Nya menjadi suci, disebut sebut dalam doa dan ibadah, bahkan doa anak Adam akan tertahan sebelum dia bershalawat kepada Muhammad Rasulullah.

Karena ada Nur Muhammad itu pula menjadikan Beliau bisa mensucikan atau mengIslamkan sekalian ARWAH ummat. Dzahir ummat Islam dengan Syariat sedangkan Ruh Ummat Islam dengan Ruh pula yaitu Arwahul Muqadasah Rasulullah SAW

Muhammad sebagai sosok manusia tetap menjadi manusia, tunduk kepada hukum2 alamiah manusia, seperti: sedih, senang, sakit, terluka dan juga…wafat
Akan tetapi unsur2 keRasulan berupa WASILAH itu tidak tunduk kepada hukum-hukum duniawi, karena dia bukan berasal dari dimensi dunia. Karena itu ketika Nabi Muhammad SAW wafat, maka WASILAH tetap ada dan terus berlanjut hingga akhir zaman yang dibawa oleh para Khalifah Rasul, Ulama Pewaris Nabi, yang mewarisi Wasilah Akbar.

Para Wali yang membawa Wasilah tersebut menjalankan fungsi Kenabian dari Muhammad SAW, yaitu: mengIslamkan Ruhani manusia, sedangkan ilmu-ilmu dzahir yang diajarkan Nabi kepada pewarisnya untuk mengIslamkan manusia dari jasad atau fisiknya atau akalnya, maka sempurnalah manusia ber Islam secara dzahir dan bathin ( Kaffah ).

Tanpa Wasilah maka segala ibadah akan menjadi kosong, hanya gerak-gerak zahir saja tanpa makna sama sekali. Dengan Wasilah Syahadat bisa menjadi Syahadat yang bermakna dengan terlebih dulu diaktivasi sehingga berfungsi dengan baik.
Ibarat Sim Card di HP, begitu fungsi Syahadat dalam segala ibadah. Inilah sebagai alat komunikasi antara si manusia yang lemah, dhaif, papa kepada Dzat Maha Perkasa, Maha Mutlak !!

Ingat ..!! bahwa dosa tak terampuni adalah SYIRIK atau menyekutukan Tuhan. Maknanya, Allah akan menolak total ibadah yang tidak memiliki unsur yang berasal dari diri Nya.

Maka maha bersyukur kita kehadirat Allah SWT yang telah  memperkenalkan umat Nya kepada  salah seorang Pembawa Wasilah,  yaitu: Guru Mursyid  yang dengan Cahaya Nya menuntun  jasmani dan ruhani kita kehadirat Nya, menjadi Islam Dzahir dan  Bathin.
Dengan Wasilah  ini pula kita menTauhidkan Nya dalam Asma Nya, dalam Fi’il Nya dan dalam DzatNya.

*semoga bermanfaat*

      *SYEKH KANJENG*

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *