MEMINTA KEMBALI SESUATU PEMBERIAN

Setelah memberikan sebuah barang pada orang lain, pernah nggak tiba-tiba merasa menyesal telah melakukannya atau merasa masih sayang terhadap barang tersebut? Jika tidak, maka—alhamdulillah—kita tergolong orang yang mudah ikhlas. Jika iya, maka jangan sampai kita mencoba untuk memintanya kembali.

Rasulullah saw. bersabda:

مَثَل الذي يرجِع في صَدَقته كمَثَل الكلب يَقِيء ثم يعود في قَيْئه فيأكله
*“Perumpamaan orang yang meminta kembali sedekahnya adalah seperti anjing yang muntah kemudian mengambil lagi muntahannya dan menelannya.” (HR. Bukhari-Muslim)*

Berdasarkan hadis ini, *Imam An-Nawawi dalam Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim* menjelaskan bahwa mayoritas ulama berpendapat hukum meminta kembali pemberian adalah haram.

هذا ظاهرٌ في تحريم الرجوع في الهبة بعد إقباضها وهو محمول على هِبَة الأجنبي أما إذا وَهَب لولده وإن سَفَل فله الرجوع فيه كما صرَّح به في حديث النعمان بن بشير ولا رجوع في هبة الإخوة والأعمام وغيرهم من ذَوِي الأرحام، هذا مذهب الشافعي وبه قال مالك والأوزاعي
“Hadis ini menjadi dalil yang jelas tentang keharaman meminta kembali pemberian setelah diserahkan. Tapi, hadis ini tertuju pada pemberian terhadap orang selain anak. Adapun jika seseorang memberikan sesuatu kepada anaknya—atau keturunannya, maka ia boleh meminta kembali, sebagaimana telah Rasulullah saw. tegaskan dalam hadis riwayat An-Nu’man bin Basyir. Kehalalan meminta kembali pemberian tidak berlaku untuk pemberian kepada saudara, paman, atau keluarga lainnya. Apa yang telah disampaikan ini adalah pendapatnya Imam Syafi’i. Begitu pula Imam Malik dan Imam Al-Auza’i.”

Hadis An-Nu’man bin Basyir yang dimaksud oleh An-Nawawi adalah kejadian ketika ayah An-Nu’man memberikan seorang budak kepadanya. Sang ayah menyampaikan hal ini kepada Rasulullah saw. dengan maksud agar beliau mau bersaksi atas pemberian tersebut. Rasulullah saw. bertanya pada ayah An-Nu’man, “Apakah kau melakukan hal yang sama pada semua anakmu?”

Ayah An-Nu’man menjawab, “Tidak.”

Rasulullah saw. bersabda, “Bertakwalah kepada Allah dan berlakulah adil di antara anak-anakmu.” Dalam riwayat lain beliau juga bersabda, “Tariklah kembali pemberian itu.”

Kesimpulan ulama di atas juga berdasarkan hadis lain yang berbunyi:

لا يحل لرجل مسلم أن يعطي العطية ثم يرجع فيها إلا الوالد فيما يعطي ولده
*“Bagi seorang laki-laki yang muslim tidak halal memberikan suatu pemberian kemudian ia mengambilnya kembali, kecuali bagi orang tua terhadap barang yang ia berikan pada anaknya.” (HR. Ahmad)*

Jadi, *bagi orang tua meminta kembali pemberian tidak haram, tapi bisa jadi hukumnya makruh, sunah, mubah atau wajib*. Begini penjelasan Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fatḥul-Mu’īn:

ويكره للأصل الرجوع في عطية الفرع إلا لعذر كأن كان الولد عاقا أو يصرفه في معصية
“Makruh bagi orang tua meminta kembali pemberian yang sudah diterima anaknya, kecuali bila ada uzur, semisal si anak durhaka kepadanya atau menggunakan barang pemberiannya dalam kemaksiatan.”

Referensi ini diterangkan lebih rinci oleh Syekh Abu Bakar bin Syatha dalam I’ānatuṭ-Ṭalibīn-nya:

وبحث الأسنوي: ندبه في العاصي وكراهته في العاق إن زاد عقوقه وندبه إن أزاله وإباحته إن لم يفد شيئا. والأذرعي: عدم كراهته إن احتاج الأب له لنفقة أو دين بل ندبه إن كان الولد غنيا عنه ووجوبه في العاصي إن تعين طريقا في ظنه إلى كفه عن المعصية
“Imam Al-Asnawi menjelaskan: sunah meminta kembali untuk anak yang bermaksiat; makruh untuk anak yang durhaka apabila justru menambah kedurhakaannya; sunah jika menghentikan kedurhakaannya; dan mubah jika tidak berdampak apa-apa.”

“Imam Al-Adzra’i menjelaskan: tidak makruh apabila si Ayah (atau ibu) membutuhkan barangnya untuk keperluan nafkah atau membayar utang—bahkan sunah jika si anak tidak membutuhkannya dan wajib untuk anak yang bermaksiat jika diduga bahwa meminta kembali adalah satu-satunya cara untuk menghentikan kemaksiatannya.” Wallahu A’lam.

Nah kalo kata orang jawa, kalo kita ngasih barang kok diminta lagi, hati-hati timbilan dimata hehe. Semoga bermanfaat ya, jangan lupa perbanyak shalawat 🙂

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *