GHIBAH dan NEGATIF THINKING

Ghibah dan buruk sangka bisa diucapkan secara lisan, tetapi bisa juga disimpan di dalam hati. Kita bisa saja menggunjing orang lain di dalam hati. Kita bercakap-cakap dengan diri kita perihal kekurangan orang lain. *Lalu bolehkan ghibah didalam hati?*

Ghibah dan buruk sangka ini *jelas dilarang* seperti tertera dalam keterangan Imam An-Nawawi berikut ini:

اعلم أن سوء الظن حرام مثل القول، فكما يحرم أن تحدث غيرك بمساوئ إنسان، يحرم أن تحدث نفسك بذلك وتسئ الظن به، قال الله تعالى: (اجتنبوا كثيرا من الظن) [الحجرات: 2]. وروينا في صحيحي البخاري ومسلم عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: إياكم والظن فإن الظن أكذب الحديث والأحاديث بمعنى ما ذكرته كثيرة، والمراد بذلك عقد القلب وحكمه على غيرك بالسوء

Artinya, “Ketahuilah, buruk sangka haram sebagaimana perkataan. Sebagaimana keharaman perkataanmu kepada orang lain terkait kekurangan seseorang, maka kau juga haram mengatakan kekurangan orang lain kepada dirimu sendiri dan buruk sangka terhadapnya. Allah berfirman, ‘Jauhilah banyak sangka.’ (Al-Hujurat ayat 2). Kami diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Jauhilah sangka karena sangkaan adalah perkataan paling dusta.’ Hadits yang maknanya serupa dengan ini cukup banyak. Yang dimaksud dengan sangkaan adalah pembenaran dan keputusan oleh hati atas keburukan orang lain,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 295).

Sementara *angan-angan yang terlintas di benak kita terkait kekurangan orang lain tidak bisa ditolak*. Ketidakberdayaan kita mengontrol angan-angan itu menjadi sebab atas ampunan Allah SWT.

Angan-angan buruk yang terlintas di benak kita harus *segera dilenyapkan* dengan cara mendustakannya. Hanya dengan cara demikian, Allah mengampuni bersitan buruk perihal orang lain sebagai keterangan berikut ini:

فأما الخواطر، وحديث النفس، إذا لم يستقر ويستمر عليه صاحبه فمعفو عنه باتفاق العلماء، لانه لا اختيار له في وقوعه، ولا طريق له إلى الانفكاك عنه وهذا هو المراد بما ثبت في الصحيح عن رسول الله (صلى الله عليه وسلم) أنه قال: إن الله تجاوز لامتي ما حدثت به أنفسها ما لم تتكلم به أو تعمل.

Artinya, “Adapun angan-angan yang lewat di benak seseorang dan bisikan di dalam hati bila tidak tetap atau tidak ditetapkan oleh yang bersangkutan maka itu dimaaf berdasarkan kesepakatan ulama. Pasalnya, lalu lalang angan-angan (khawatir) itu bukan pilihan kita. Tiada jalan untuk melepaskan diri. Ini yang dimaksud dalam sabda Rasulullah SAW, ‘Sungguh, Allah memaafkan umatku atas ucapan yang terbersit di dalam dirinya selagi tidak diutarakan atau diamalkan,’” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 296).

Ulama menjelaskan bahwa *angan-angan di dalam batin tidak selalu ghibah* atau gunjingan atas kekurangan orang lain. angan-angan itu dapat berupa kemaksiatan apa saja yang terlintas dan terbersit di benak kita. *Semua “pikiran” negatif itu mesti segera dilenyapkan dan diganti dengan pikiran positif*.

Jadi beda ya antara ghibah dan lintasan angan-angan buruk. Jadi kalo ghibah dihati itu ya jelas-jelas menyebut keburukan orang lain, misalnya “ih dia kok it kok begitu sih kok begini” dan ini dilakukan dengan sadar.

Sementara kalau lintasan angan-angan itu datang secara tiba-tiba yang tidak bisa kita kontrol misalnya “ih, kok bajunya norak ya” dsb.

Wallahu’alam.

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *