HAKIKAT MISKIN

Pernah kita melihat pengamen cilik di pinggir jalan? Pengemis yang meminta-minta di lampu merah? Atau melihat mereka yang menampakkan wajah sedih demi menarik belas kasihan dari kita? Seberapa kita tertarik hatinya untuk membantu mereka? Hanya kita biarkan atau justru setiap kita melihat kejadian seperti itu selalu menolongnya dengan harta yang kita miliki? Itu hanya sedikit kejadian dari kemiskinan, namun yang sebenarnya kemiskinan tidak hanya terpaku dan sebatas itu saja, banyak di antaranya contoh-contoh kemiskinan dan siapa saja yang sesungguhnya si orang miskin itu. Maka dari itu mari kita mulai diskusinya.
Miskin, mendengar katanya saja kita seakan-akan risi dan berharap agar kita tidak termasuk di dalamnya. Sebab bagi kita itu miskin sangat menyusahkan, dikesampingkan di lingkungan sosial, atau justru akan ada banyak kejahatan jika miskin itu merebak ke penjuru negeri. Padahal bisa jadi diantara kita adalah orang yang miskin atau mungkin lebih miskin dibanding mereka yang jualan koran di pinggir jalan dsb.
Namun sebelum kita bahas itu, perlu kita ketahui bahwa miskin tidak serta merta kekurangan finansial, turunnya intensitas ekonomi, banyaknya hutang, kesusahan membeli kebutuhan hidup, dan sebagainya. Miskin adalah ketika kita melakukan segala hal hanya untuk mendapatkan apa yang kita mau bukan yang kita butuhkan, *hati* itulah jawabannya. Meskipun ini bukan suatu dasar pemikiran tetapi jika ada orang tidak peduli atau cuek dengan sekitar yang kekurangan, yang kelaparan, kesakitan itulah orang miskin yang sesungguhnya. Mengapa seperti itu? Secara finansial mereka yang kekurangan belum tentu merasa kurang atau mereka selalu bersyukur atas pemberian Tuhan. Namun si kaya yang miskin senantias mempunyai rasa kawatir dalam hati dan pikirannya dengan harta dan semua yang dimiliki.
Terjadi pula suatu kasus bahwa ada seorang bapak yang prihatin dengan anaknya ketika meminta _HP_, karena merasa kasian dengan si anak yang merengek meminta _HP_ si bapak rela melakukan segala hal untuk mendapatkan apa yang diinginkan si anak. Segala cara ia lakukan, dari bekerja keras, mencari hutangan, sampai yang terparah yaitu mencuri. Semua itu dilakukan demi si anak agar bahagia. Tapi apakah itu merupakan sesuatu yang benar? Tentu tidak, kembali saya sampaikan bahwa ini bukanlah suatu dasar pemikiran tapi sesungguhnya “ *Kemiskinan adalah bila harga diri manusia dilekatkan pada benda-benda duniawi dan lupa pada ketulusan hati dan kebersihan jiwa* “.

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *