TAWADU’

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

ما نقصتْ صدقة منْ مال وما زاد الله عبدا بعفْو إلاّ عزْا وما
توا ضع أحد الله إلاّ رفعه الله

“Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seseorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” (H.R. Muslim, no. 2588).
Ketika seseorang memiliki sifat tawadhu’ Allah akan meninggikan derajatnya di dunia dan akhirat. Ketika di dunia mereka akan dimuliakan Allah di tengah-tengah manusia. Sedangkan, di akhirat Allah akan memberinya pahala dan meninggikan derajatnya karena sifat tawadhu’nya itu. Tidakkah kita menyadari bahwa kita tak berarti apa-apa dihadapan Allah SWT, manusia membutuhkan karunia, ampunan dan rahmat dari Allah SWT.
Tanpa karunia dan nikmatnya kita tidak akan bisa bertahan hidup bahkan tidak ada di permukaan bumi ini. Ketika kita menyadari bahwa apa saja yang kita miliki baik berupa paras, ilmu pengetahuan, harta kekayaan, maupun pangkat, jabatan, kedudukan dan lain sebagainya, semuanya itu adalah karunia dari Allah SWT. Allah SWT berfirman:
وَمَا بِكُم مِّن نِّعۡمَةٖ فَمِنَ ٱللَّهِۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فَإِلَيۡهِ تَجۡ‍َٔرُونَ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (Q.S. An-Nahl [16]: 53).
Ketika kita telah menyadari hal itu, tidak sepantasnya bagi kita untuk bersikap sombong terhadap sesama manusia, apalagi terhadap Allah SWT. Sikap tawadhu’ tak akan membuat derajat seseorang menjadi rendah, malah ia akan dihormati dan dihargai. Selain itu, Allah akan memasukkan orang-orang yang tawadhu’ kedalam kelompok hamba-hamba yang mendapatkan kasih sayang dari Allah SWT. Firman-Nya:
وَعِبَادُ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمۡشُونَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ هَوۡنٗا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ
ٱلۡجَٰهِلُونَ قَالُواْ سَلَٰمٗا

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyanyang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati…” (Q.S. Al-Furqan 25: 63).
Di antara bentuk sikap tawadhu’ telah dicontohkan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam ketika beliau memberi salam kepada anak kecil yang lebih rendah kedudukannya di bawah beliau.
Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:
أنّه مرّ على صبْيان فسلّم عليهمْ وقال: كان النّبيّ صلّى الله
عليه وسلّم يفْعله

“Sesungguhnya Anas bin Malik berjalan melewati anak kecil, kemudian beliau mengucapkan salam kepada mereka.” Anas berkata, “Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam dulu biasa melakukannya.” (H.R. Bukhari no.6247 dan Muslim no, 2168). Dalam hadits lain Anas berkata,
ان النبي صلى الله عليه و سلم كان يزور الأنصر و يسلم
على صبيا نهم ويمسح رؤوسهم

“Sungguh Nabi Shallallahu ‘alahi wa sallam biasa berkunjung ke orang-orang Anshar. Lantas beliau memberi salam kepada anak kecil mereka dan mengusap kepala mereka.” (H.R. Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya no. 459).
Sungguh sangat mulia sifat tersebut, dapat kita mengambil pelajaran dari hadits di atas yaitu ketika kita mau memberi salam kepada orang yang sepintas kita melihat status atau derajatnya lebih rendah daripada kita. Boleh jadi orang tersebut lebih mulia di sisi Allah karena ketakwaannya kepada Allah melebihi daripada diri kita.
Imam Asy Syafi’i berkata:
يقول الشافعي: أرفع الناس قدرا من لايرى قدره, وأكبر
الناس فضلا من لايرى فضله

“Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah menampakkan kedudukannya. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah menampakkan kemuliannya.” (Syu’baul Iman, Al-Baihaqi, 6: 304).
Sungguh, kemuliaan itu sebenarnya tidak pula untuk ditampakkan, sebab jika sifat tawadhu’ terdapat pada diri seseorang, ia selalu berusaha tak ingin menampakkan kemuliannya. Karena ia mengerti bahwasanya segala apa yang ia perbuat hanya untuk mencari ridho Allah Subhanahu wa ta’ala, bukan mencari pujian atau sanjungan manusia. Karena ia mengetahui bahwa Allah yang menilai segala perbuatannya. Semoga kita semua menjadi pribadi yang tawadhu’ karena Allah SWT. InsyaaAllah. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin..

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *