MENYUCIKAN HATI

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah pernah berkata:

ومن كان في خواطره دنيئا خسيسا، لم يكن في سائر أموره إلا كذلك.

“Siapa yang pikiran-pikirannya berisi sesuatu yang rendah dan tidak berharga, maka tidaklah keadaan semua urusannya kecuali seperti itu juga.”

(Al-Fawaid hlm. 255, karya Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah)

Pikiran itu adalah sama dengan akal, dan akal itu adanya di dalam hati seseorang.

Apabila keadaan hati seseorang itu baik, yakni yang terbimbing di atas petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka akan lahir darinya ucapan yang baik, amalan dan akhlak yang baik pula.

Sebaliknya, jika hati seseorang itu rusak, karena jauh dari petunjuk/hidayah Allah Azza wa Jalla dan jauh dari bimbingan ilmu syar’i, akan lahir darinya perkataan-perkataan yang jelek, amalan yang jelek dan juga akhlak yang jelek.

Karena itulah Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda :

أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ. (رواه البخاري ومسلم).

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila segumpal daging tersebut baik, (maka) baiklah seluruh tubuhnya. Dan apabila segumpal daging tersebut buruk, (maka) buruklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.”

(HR. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim).

Hal itu menunjukkan, betapa pentingnya kedudukan hati dibandingkan seluruh anggota tubuh lainnya.

Hati itu juga, yang di dalamnya terdapat akal dan pikiran kita, adalah sumber utama yang akan menentukan baik atau buruknya keadaan amal perbuatan seseorang.

Karena hati itu ibarat raja, sedangkan anggota tubuh lainnya adalah rakyatnya, yang tunduk dan patuh serta selalu mengikuti perintah rajanya tersebut.

Karena itu pula, sangat penting bagi kita untuk selalu berupaya memperbaiki keadaan hati kita.

Yakni dengan memberikan makanan dan nutrisi yang bermanfaat baginya, seperti: memperbanyak _dzikirullah_ (mengingat Allah) dengan kalimat _thayyibah_ dan juga berdoa kepada-Nya…

Atau dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an dan memahami maknanya dan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya, lalu berupaya untuk mengamalkannya…

Atau dengan menuntut ilmu agama, dan bersemangat dalam mempelajarinya dan mengamalkannya…

Atau dengan senang membaca kitab-kitab para ulama yang bermanfaat, atau dengan mempelajari _sirah_ (sejarah/perjalanan hidup) orang-orang shalih sebelum kita, dari kalangan para Nabi dan Rasul, para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari masa ke masa, dan masih banyak cara yang lainnya…

InsyaAllah semua itu akan membantu kita untuk memperbaiki hati kita.

Agar hati kita selalu sehat, selalu terbimbing dan terpimpin dengan _hidayah_ dan _taufiq_ dari Allah Azza wa Jalla. Sehingga diharapkan kita senantiasa semakin senang dan bersemangat dalam beribadah dan melakukan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla…

Allah Azza wa Jalla berfirman :

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (10)

_”Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”_

(QS. As-Syams : 9-10)

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *