MEMILIH SAHABAT YANG SHALIH ATAU YANG SALAH

Jika kita bersama dengan sahabat kita, lama kelamaan kita akan menemukan keshalehan dan kesalahannya. Untuk itulah kita diperintahkan oleh Allah Azza wa Jalla agar saling menasehati untuk mentaati kebenaran dan kesabaran… Namun adakalanya sahabat kita yang salah tidak mau dinasehati, keras pendirian pada kesalahannya bukan pada keshalehannya. Maka, di saat itulah kita harus memilih menghindar agar tidak terkontaminasi dengan kesalahannya…

Sungguh memilih bersahabat dengan orang-orang yang shaleh adalah nikmat yang sangat besar. Umar bin Khattab berkata,

ما أعطي العبد بعد الإسلام نعمة خيراً من أخ صالح فإذا وجد أحدكم وداً من أخيه فليتمسك به

_“Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (semuslim) yang shaleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang shaleh maka pegang lah erat-erat.”_

(Quutul Qulub 2/17)

Sahabat yang shaleh akan senantiasa membenarkan dan menasehati kita apabila salah. Inilah sahabat yang sesungguhnya, bukan hanya sahabat saat bersenang-senang saja atau sahabat yang memuji karena basa-basi saja…

Sebuah syair Arab berbunyi:

ﺻﺪﻳﻘﻚ ﻣﻦ ﺻﺪﻗﻚ ﻻ ﻣﻦ ﺻﺪﻗﻚ

_“Sahabat sejatimu adalah yang senantiasa jujur (ketika salah diingatkan), bukan yang senantiasa membenarkanmu”._

Sahabat yang shaleh juga akan selalu mendoakan sahabatnya, karena apabila ia mendoakan sahabatnya, sedangkan sahabatnya tidak mengetaui, maka malaikat juga meng _amin_ kan doa tersebut sambil mendoakan bagi yang berdoa tadi, artinya orang yang mendoakan juga mendapatkan apa yang ia doakan kepada saudaranya…

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

_“Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: “Aamiin”. Engkau juga akan mendapatkan semisal dengan saudaramu itu”._

(HR. Muslim, no. 2733)

Sifat seseorang dan keshalehan itu “menular”, dengan berkumpul bersama orang shaleh, maka kita juga akan menjadi shaleh dengan izin Allah.

Rasulullah bersabda,

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً “

_“Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan pandai besi, Adapun penjual minyak wangi, dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk”._

(HR. Bukhari dan Muslim)

Al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi Rahimahullah pernah berkata:

Manusia itu ada empat :

1. Orang yang tahu dan mengetahui dia tahu. Itulah orang alim maka ambillah ilmu darinya.

2. Orang yang tahu dan dia tidak sadar bahwa dia tahu, itulah orang lupa maka ingatkanlah!

3. Orang yang tidak tahu dan dia menyadari bahwa dia tidak tahu, inilah orang yang mencari petunjuk, maka ajarilah!

4. Orang yang tidak tahu dan dia tidak tahu kalau dia tidak tahu. Inilah orang bodoh maka tinggalkanlah.

(Al-Ma’rifah wat Tarikh 2/38 diambil dari kitab _al-Ulama wa ilmu Laa Adri_ karya Abdurrahman Yusuf aliFarhaan, hlm. 7).

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *