ISTIQAMAH DALAM KETAATAN

Tetap istiqamah dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan memang tidak mudah. Apalagi dalam ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dan dalam perjuangan menegakkan syariah-Nya…

Ejekan. Tekanan. Hingga berbagai ancaman. Baik psikis (seperti teror) maupun fisik (penangkapan, pemenjaraan, penyiksaan, dsb). Semua itu sering membuat banyak orang tak selalu mampu istiqamah. Mereka bisa goyah. Lalu menyerah… Kalah… Bahkan banyak yang akhirnya berbalik arah…

Demikian pula sebaliknya. Bisikan hawa nafsu. Godaan setan. Pengaruh lingkungan yang buruk. Tawaran kekuasaan dan jabatan. Pujian, sanjungan, rayuan dan berbagai jebakan. Semua itu pun sering membuat banyak orang tak bisa senantiasa istiqamah. Mereka bisa goyah. Lalu menyerah. Hingga akhirnya menjadi pecundang. Itulah realitas yang terjadi dalam politik demokrasi sekular saat ini, yang jauh dari norma dan aturan Islam…

Lihatlah para elit politik kita. Hari ini bicara A. Besok bicara B. _Isuk dele sore tempe_ (pagi kedelai sore tempe). Tidak aneh jika kemudian ada yang suatu hari mengkritisi dan menjelek-jelekkan seorang tokoh. Esoknya sudah memuji-muji yang bersangkutan. Suatu hari berseberangan. Esoknya sudah saling tersenyum bergandengan tangan…

Siapapun bisa menilai. Semua itu bukan berangkat dari sebuah ketulusan, tetapi semata-mata karena kepentingan. Mereka hakikatnya sedang mempraktikkan adagium politik sekular yang kotor, ”Tidak ada kawan atau musuh abadi. Yang ada hanyalah kepentingan abadi.”

Demi kepentingan kekuasaan, apapun dilakukan. Tak ada lagi rasa malu dan sungkan. Tak ada lagi rasa bersalah dan takut dosa. Halal-haram tak lagi menjadi ukuran. Syariah tak lagi dipandang relevan…

Demikianlah kalau manusia sudah diharu-biru hawa nafsu. Diperdaya harta. Diperbudak syahwat kekuasaan. Semua itu berpangkal pada kecintaan manusia terhadap dunia…

Para elit politik, termasuk para tokoh Islam, seolah tidak pernah belajar meneladani generasi salafush-shalih yang tak pernah silau oleh gemerlap dunia, harta dan kekuasaan. Jangankan bermimpi untuk menjadi penguasa atau bernafsu mengejar kekuasaan. Bahkan ditawari jabatan pun sering tak mereka hiraukan…

Semua itu mereka lakukan bukan karena kekuasaan itu haram, tetapi semata-mata karena mereka khawatir akan Hari Pertanggungjawaban. Mereka sangat memahami sabda Rasulullah saw. kepada Abu Dzar ra. yang pernah meminta amanah jabatan/kekuasaan. Saat itu Rasulullah saw. menolak sambil memberi nasihat, “Jabatan/kekuasaan itu adalah amanah serta bisa menjadi kerugian dan penyesalan pada Hari Kiamat, kecuali bagi orang yang mengambil amanah kekuasaan itu dengan benar dan menunaikan kewajibannya di dalamnya.”

(HR. Muslim).

Karena tak pernah berambisi atas kekuasaan, tidak aneh jika generasi salafush-shalih adalah generasi yang tak pernah plin-plan. Mereka selalu istiqamah. Apalagi dalam menyatakan kebenaran. Sebabnya, mereka memang tak pernah terbebani oleh kekhawatiran akan risiko hilang kesempatan meraih jabatan atau kekuasaan…

Istiqâmah adalah mashdar dari istaqâma—yastaqîmu—istiqâmah. Secara bahasa artinya adalah itidâl (lurus). Istiqamah adalah lawan dari iwijâj (bengkok).

Imam an-Nawawi di dalam Riyâdh ash-Shâlihîn mengatakan, “Para ulama berkata, istiqamah adalah luzûm ath-thâah (konsisten dalam ketaatan).”

Di dalam Hasyiyah as-Sindi alâ Sunan Ibn Mâjah disebutkan bahwa istiqamah adalah mengikuti kebenaran dan menegakkan keadilan serta menetapi manhaj yang lurus. Tentu dengan melaksanakan semua yang Allah Azza wa Jalla perintahkan dan menjauhi semua yang di larang-Nya.

Karena itu istiqamah hukumnya wajib. Allah Azza wa Jalla berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ…

“Karena itu beristiqamahlah sebagaimana kamu diperintahkan”.

(QS. Hud : 112).

Rasulullah saw. pun pernah bersabda kepada Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi ra. :

« قُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ، ثُمَّ استَقِمْ »

“Katakan, “Aku beriman kepada Allah.” Lalu beristiqamahlah!

(HR Ahmad dan Muslim)

Rasulullah saw juga telah bersabda:

« لاَ يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلاَ يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ »

“Tidaklah lurus keimanan seorang hamba sehingga lurus hatinya dan tidaklah lurus hatinya sehingga lurus lisannya”.

(HR. Ahmad dan al Baihaqi).

Jika ada orang yang mengatakan bahwa iman di hatinya tidak akan goyah, itu artinya dia sedang berdusta. Karena Rasulullah pernah mengatakan:

الإِيْمَانُ يَزِيْدُ وَيَنْقُصُ

Iman itu bisa bertambah dan (bisa) berkurang

Para ulama menjelaskan, bahwa iman dapat bertambah karena ketaatan, dan berkurang karena kemaksiatan.

Perkataan Rasūlullah saw. di atas dalam pengertian lain menjelaskan iman itu bisa goyah. Cukup dianggap sebagai pendusta, orang yang mengatakan bahwa imannya tidak akan goyah, walaupun sejuta kemaksiatan dihadirkan di hadapannya…

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *