KEDUDUKAN KITA DI SISI ALLAH

Ada suatu nasihat yang patut kita renungkan bersama untuk mengukur sejauh manakah kedudukan kita sebagai hamba yang mulia di sisi-Nya,

إذا أردت أن تعرف منزلتك عند الله تعالى، فاعتبر بمنزلته عندك، وانظر إلى شدة تعلق سرك به، واهتمامك بمراضيه، وكرهك لما يكره، وموالاتك لأصحابه، ومجانبتك لشرار خلقه، إبن الأمر على هذا فهو الأصل المعتبر، ولا تبن الأمر منك ولا من غيرك على الأعمال الظاهرة إذ لا اعتبار بذلك، لأنها قد تكون في الأبرار والفجر.

“Jika engkau ingin mengetahui kedudukanmu di sisi Allah ﷻ, maka ukurlah kedudukan Allah ﷻ di dalam hatimu. Dan lihatlah seberapa kuat ikatan batinmu dengan-Nya. Seberapa kuat engkau memperhatikan hal-hal yang membuat-Nya ridha padamu. Seberapa kuat kebencianmu terhadap hal-hal yang Dia benci. Seberapa kuat engkau mengikuti orang-orang yang Dia cintai. Dan seberapa kuat engkau menjauhi orang-orang yang jelek dari makhluk-Nya. Inilah tolak ukur kedudukan hamba disisi-Nya yang sesungguhnya, janganlah engkau ukur kedudukanmu di sisi Allah ﷻ hanya dari amal-amal dhahir saja, karena hal tersebut bukanlah ukuran, sebab amal-amal dhahir juga bisa di lakukan oleh orang yang shaleh dan orang yang fasik”.

(Lidhahul Asrar ‘Ulumil Muqarrabin, hlm. 129).

Disadari ataupun tidak disadari, terkadang jika tidak hati-hati seseorang akan terperosok dari kedudukan mulia di sisi-Nya menuju keburukan…

Awal mula tertimpanya keburukan bagi seseorang, apabila dia merasa dirinya sebagai ‘orang baik’…

Perkataan beliau ini mengingatkan kita tentang nasihat dari Ummul Mu`miniin ‘Aa`isyah radhiyallaahu ‘anha ketika beliau ditanya:

مَتَى يَكُوْنُ الرَّجُلُ مُسِيْأً

“Kapan seseorang itu dikatakan buruk?”

Beliau menjawab:

إِذَا ظَنَّ أَنَّهُ مُحْسِنٌ

“Ketika dia menyangka dirinya seorang yang baik”.

(At-Taisiir bisyarh Al-Jaami’ as-Shaghiir 2/606)

Benarlah perkataan beliau, awal mula keterperosokan seseorang dari kedudukan mulia sisi-Nya menuju keburukan, ketika dia menilai dirinya sebagai seorang yang baik. Maka dia pun akan mulai merendahkan orang lain. Maka dia pun merasa serba berkecukupan, sehingga menghalangi dirinya untuk terus memperbaiki segala keburukannya, kesalahannya, kekeliruannya, serta kekurangannya dalam penunaian kebaikan…

Demikian pula, Seseorang itu sulit mendapatkan ilmu, ketika sudah merasa berilmu tinggi…

Fudhayl bin ‘Iyyaadh ditanyakan tentang tawadhu’, maka beliau menjawab:

أَنْ تَخْضَعَ لِلْحَقِّ وَتَنْقَادَ لَهُ وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ صَبِيٍّ قَبِلْتَهُ مِنْهُ، وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ أَجْهَلِ النَّاسِ قَبِلْتَهُ مِنْهُ

“Engkau tunduk dan patuh pada kebenaran, meskipun engkau mendengarnya dari seorang anak kecil; (ketika engkau mendapati ia menyampaikan kebenaran), maka engkau menerima kebenaran tersebut darinya. Meskipun engkau mendengarnya dari manusia yang paling bodoh; (ketika engkau mendapati ia menyampaikan kebenaran), maka engkau menerima kebenaran tersebut darinya”.

(Hilyatul Auliyaa’ 8/91)

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *