HATI YANG JERNIH

Tetaplah Istiqamah dengan amalan ibadah sebagaimana yang telah dituntunkan oleh Rasulullah SAW… Tetaplah istiqamah untuk senantiasa _amar ma’ruf nahi munkar_… Yaitu berusaha mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala sebagaimana orang yang melakukan.”

(HR. Muslim, 3509)

Kita diperintahkan di dalam Al Qur’an untuk saling mengingatkan agar mentaati kebenaran dan kesabaran, dan itu menjadi salah satu parameter tanda kebahagiaan. Senantiasa bersemangat terhadap kebenaran dan berusaha terus untuk mencarinya. Ia senantiasa gembira, tidak mudah tersinggung ketika diingatkan atas kesalahannya…

قال الإمام ربيع المدخلي حفظه الله

“ﻭﻣﻦ ﻋﻼﻣﺔ ﺍﻟﺴﻌﺎﺩﺓ ﺃﻧَّﻚ ﺗﺤﺮﺹ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺤﻖ، ﻭﺗﺒﺤﺚ ﻋﻨﻪ، ﻭﺗﻔﺮﺡ ﺇﺫﺍ ﻧُﺒِّﻬﺖ ﻋﻠﻰ ﺧﻄﺌﻚ”

[ﻣﺮﺣﺒﺎ ﻳﺎ ﻃﺎﻟﺐ ﺍﻟﻌﻠﻢ – ص262]

Al Imam Rabi’ bin Hadiy al Madkhaliy hafizhahullah berkata:

“Di antara tanda kebahagiaan, engkau bersemangat terhadap al _haq_ (kebenaran) dan senantiasa mencarinya. Juga engkau gembira apabila diingatkan atas kesalahanmu.”

(Marhaban Ya Thalib al ‘Ilmi, hlm. 262)

Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berdo’a,

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ، أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ، أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ، أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ، أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak sesat atau disesatkan (setan atau orang yang berwatak setan), agar tidak berbuat kesalahan atau disalahi, agar tidak menganiaya atau dianiaya (orang), dan agar tidak berbuat bodoh atau dibodohi.”

(HR. Abu Daud No. 5094, HR. Tirmidzi No. 3427, HR. An Nasai No. 5501, dan HR. Ibnu Majah No. 3884. Lihat Shahih Tirmidzi 3/152 dan Shahih Ibnu Majah 2/336).

Hidup berjalan di atas waktu. Terkadang kita cuma perlu bersabar menjalaninya. Karena semua yang terikat dengan waktu pasti akan berlalu. Demikian halnya musibah wabah Covid 19 ini, pasti akan segera berlalu…

Suatu ibadah yang sangat bernilai di sisi Allah Azza wa Jalla, tapi sedikit wujudnya di tengah-tengah manusia… Dialah ‘Hati yang Jernih’.

Sebagian dari mereka ada yang mengatakan, “Setiap kali aku melewati rumah seorang muslim yang megah, saya mendoakannya agar diberkahi.”

Sebagian lagi berkata, “Setiapkali kulihat kenikmatan pada seorang Muslim (mobil, proyek, pabrik, istri shalihah, keturunan yang baik), saya mendoakan: ‘Ya Allah, jadikanlah kenikmatan itu penolong baginya untuk taat kepada-Mu dan berikanlah keberkahan kepadanya’”.

Ada juga dari mereka yang mengatakan, “Setiap kali kulihat seorang Muslim berjalan bersama istrinya, saya berdo’a kepada Allah, semoga Dia menyatukan hati keduanya di atas ketaatan kepada Allah”.

Ada lagi yang mengatakan, “Setiapkali aku berpapasan dengan pelaku maksiat, kudoakan dia agar mendapat hidayah”.

Yang lain lagi mengatakan, “Saya selalu berdo’a semoga Allah memberikan hidayah kepada hati manusia seluruhnya, sehingga leher mereka terbebas (dari neraka), begitu pula wajah mereka diharamkan dari api neraka”.

Yang lainnya lagi mengatakan: “Setiapkali hendak tidur, aku berdoa: ‘Ya Rabb-ku, siapapun dari kaum Muslimin yang berbuat zalim kepadaku, sungguh aku telah memaafkannya, oleh karena itu, maafkanlah dia, karena diriku terlalu hina untuk menjadi sebab disiksanya seorang muslim di neraka’”.

Itulah hati yang jernih. Alangkah perlunya kita kepada hati yang seperti itu.

Ya Allah, jangan halangi kami untuk memiliki hati seperti ini, karena hati yang jernih adalah penyebab kami masuk surga.

Suatu malam, Hasan Bashri berdo’a, “Ya Allah, maafkanlah siapa saja yang mendzalimiku”… dan ia terus memperbanyak do’a itu!

Maka ada seseorang yang bertanya kepadanya, “Wahai Hasan Bashri… Sungguh, malam ini aku mendengar engkau berdo’a untuk kebaikan orang yang mendzalimimu, sehingga aku berangan-angan, andai saja aku termasuk orang yang mendzalimimu, maka apakah yang membuatmu melakukannya?
Beliau menjawab: “Firman Allah (yang artinya):

“Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya kembali kepada Allah’”.

[Q.S. Asy-Syuura: 40].

[Kitab Syarah Shahih Bukhari, karya Ibnu Baththal, 6/575-576]

Sungguh, itulah hati yang jernih dijadikan shalih berlandaskan Al-Qur’an dan as-Sunnah. Maka, selamat atas surga yang didapatkan oleh mereka…

Allah Azza wa Jalla tidak pernah salah pilih. Apapun segala kejadian yang telah ditakdirkan menjadi karunia kita akan tetap mendatangi kita walaupun kita sangat lemah…

Sebaliknya apapun segala kejadian yang tidak ditakdirkan menjadi karunia kita, maka kita tidak akan pernah dapat meraihnya, walau bagaimanapun kekuatan kita…

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *