KEHIDUPAN YANG BAIK

 

قَــالَ الشَّـيخ العلّامــة ابن عُثيمين رَحِمهُ الله- :

” الحياة الطيّبة ليست كما يفهمه بعض الناس السلامة من الآفات مِنْ فقر ومرض وكدر .

لا، بل الحياة الطيبة أن يكون الإنسان طيّب القلب منشرح الصدر مطمئنًّا بقضاء الله وقَدَرِه، إنْ أصابته سرّاء شَكَر فكان خيراً له، وإن أصابته ضرّاءَ صبَرَ فكان خيراً له، هذه هي الـحياة الطيبة، وهي راحة القلب.

أمّا كثرة الأموال وصحة الأبدان فقد تكون شقاءً على الإنسان وتَعَباً“.

[ فتاوى إسلامية (ج٤ ص٦٤)] .

As-Syaikh Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata :

_”Kehidupan yang baik itu bukanlah seperti apa yang dipahami oleh sebagian orang, (yaitu) “selamatnya seseorang dari berbagai penderitaan, seperti : selamat dari kemiskinan, selamat dari sakit dan berbagai kesulitan hidup.”_Bukan (seperti itu) !_Tetapi kehidupan yg baik itu adalah “keadaan seseorang yang baik hatinya, terasa lapang dadanya, merasa tenang dengan Qadha’ dan Qadar Allah ta’ala (takdir Allah ta’ala).”_

_Jika dia ditimpa kesenangan, dia bersyukur. Dan ini adalah lebih baik baginya._

_Jika dia ditimpa madharat (hal-hal yang tidak menyenangkan/berbagai penderitaan hidup), dia bersabar. Dan ini juga lebih baik baginya._

_Inilah kehidupan yang baik itu ! Dan inilah hati yang lapang itu (yakni yang penuh kebahagiaan itu) !_

_Adapun banyak harta dan kesehatan badan, terkadang hal itu (justru) akan menjadi hal yang mencelakakan bagi seseorang, atau (justru) melelahkannya !”_

(Fatawa Islamiyyah, 4/64)

Kehidupan yang baik seperti yang digambarkan oleh As-Syaikh Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah tersebut di atas, hanya bisa diraih seseorang, bila dia beriman dan beramal shalih.

Sebagaimana dinyatakan oleh Allah Azza wa Jalla dalam firman-Nya :

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

_“Barang siapa beramal shalih (mengerjakan amal-amal kebajikan), baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan dia beriman, maka pasti akan Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”_

(QS. an-Nahl: 97)

Demikian pula seperti yang disebutkan oleh Nabi Muhammad shallalahu alaihi wa sallam, dalam hadits Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu anhu, bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi was sallam bersabda :

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ.

_“Sungguh menakjubkan perkaranya orang mukmin itu, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali oleh seorang mukmin._

_Jika dia diberi sesuatu yang menggembirakan, dia bersyukur, maka hal itu merupakan kebaikan baginya._

_Dan apabila ia ditimpa suatu keburukan (musibah) ia bersabar, maka hal itu juga baik baginya.”_

(HR. Imam Muslim no. 2999)

Demikian keadaan seorang Muslim itu. Kebahagiaan baginya adalah apa yang melapangkan dadanya dan yang menenangkannya, walaupun terkadang dia diuji oleh Allah Azza wa Jalla dengan berbagai ujian dan cobaan yang berat selama hidupnya. Karena baginya kehidupan yang diberikan oleh Allah Azza wa Jalla adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak…

Setiap detik waktu kita yang berlalu adalah amanah…
Setiap detak jantung kita yang berdegup adalah amanah…
Bahkan setiap hembusan nafas kita adalah amanah…

Setiap apa yang kita lakukan di dunia ini pasti akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak, kita habiskan untuk apa saja masa hidup kita…

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *