MENAKAR KADAR KEIMANAN

Jika ada orang yang mengatakan bahwa iman di hatinya tidak akan goyah, itu artinya dia sedang berdusta. Karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

الإِيْمَانُ يَزِيْدُ وَيَنْقُصُ

“Iman itu bisa bertambah dan (bisa) berkurang”.

Para ulama menjelaskan, bahwa iman dapat bertambah karena ketaatan, dan berkurang karena kemaksiatan…

Sabda Rasulullah di atas dalam pengertian lain menjelaskan iman itu bisa goyah. Cukup dianggap sebagai pendusta, orang yang mengatakan bahwa imannya tidak akan goyah, walaupun sejuta kemaksiatan dihadirkan di hadapannya…

Jika yang bersangkutan masih menolak, cukuplah Allah Azza wa Jalla menunjukkan kisah Nabi Yusuf sebagai contoh goyahnya iman,

(وَلَقَدۡ هَمَّتۡ بِهِۦۖ وَهَمَّ بِهَا لَوۡلَاۤ أَن رَّءَا بُرۡهَـٰنَ رَبِّهِۦۚ كَذَ ٰ⁠لِكَ لِنَصۡرِفَ عَنۡهُ ٱلسُّوۤءَ وَٱلۡفَحۡشَاۤءَۚ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُخۡلَصِینَ)

“Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sungguh, dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang terpilih”.

(QS. Yusuf: 24)

Namun, karena beliau seorang Nabi dan juga Rasul, maka Allah Azza wa Jalla memberikan pertolongan kepadanya dengan menguatkan keimanannya…

Ada baiknya kita menakar kadar keimanan kita terhadap godaan kemilau dunia. Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah mengatakan,

الدنيا كالظل لو لاحقتها تهرب منك و لو اعطيتها ظهرك تلاحقك.

“Dunia itu ibarat bayangan, bila kau kejar, dia akan lari darimu. Tapi bila kau palingkan badanmu, dia tak punya pilihan lain kecuali mengikutimu”.

Apa yang dikatakan Ibnul Qoyyim di atas selaras dengan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini,

مَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ، وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ

“Siapa yang obsesi hidupnya akhirat, maka Allah akan menjadikan kekayannya berada di dalam hatinya, menyatukan urusannya, dan dunia datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Sebaliknya, siapa yang menjadikan dunia sebagai obsesinya, maka Allah akan meletakkan kefaqiran di depan kedua matanya, Dia akan mencerai-beraikan urusannya, sementara dunia tidak mendatanginya kecuali sebatas apa yang telah ditakdirkan baginya.”

(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Setiap episode bioritma kehidupan kita selalu menyajikan pilihan-pilihannya sendiri.
Di sini kita hanya punya dua pilihan, mengejar bayangan semu atau berbalik menuju kepastian. Tak ada pilihan ketiga, sebab kita tak mungkin berhenti, karena dengan berhenti itu artinya kita telah memilih untuk hancur binasa, tergilas oleh waktu yang terus bergulir. Teruslah melangkah maju…

Ibarat sebuah mobil, mengapa kaca bagian depannya lebih besar daripada kaca spionnya?
Maknanya adalah, kita harus lebih banyak melihat ke depan dari pada melihat ke belakang…
Kita harus lebih banyak menatap masa depan, meskipun masih menimbulkan penuh ketidakpastian, daripada melihat masa lalu yang sudah berlalu karena akan akan menimbulkan berbagai penyesalan…

Sesekali lihatlah bayang itu, karena Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (berupa kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu
dari (kenikmatan) duniawi”

(QS. Al Qashshash: 77)

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *