PUASA MENGUJI KESABARAN

Selayaknya setiap Muslim bergembira dan bersyukur atas datangnya Ramadhan. Sebab Ramadhan adalah bulan penuh rahmat. Bulan penuh berkah. Bulan penuh ampunan. Juga pertolongan…

Ramadhan kali ini memang berbeda. Tak sama dengan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Saat ini Ramadhan hadir di tengah wabah. Banyak orang berduka. Ditinggal mati oleh orang-orang tercinta. Banyak yang terinfeksi. Lebih banyak lagi yang diawasi. Semua karena keganasan Covid 19…

Tak hanya mengancam jiwa. Wabah Covid 19 juga melumpuhkan ekonomi negara. Dunia usaha kelimpungan. Banyak perusahaan tutup. Sebagian malah bangkrut. Banyak karyawan dirumahkan. Tak sedikit di-PHK tanpa pesangon. Akibatnya, banyaknya pengangguran makin tak terelakkan. Dunia transportasi berbasis online (Ojol) pun kena dampaknya. Padahal Ojol selama ini menjadi tumpuan harapan bagi jutaan orang yang sebelumnya tak punya pekerjaan. Mereka kini mulai mengalami banyak kesulitan…

Dampak selanjutnya terasa memilukan. Banyak orang kehilangan pendapatan. Sebab banyak pengangguran. Sebagian sudah mulai kesulitan untuk sekadar makan. Apalagi untuk bayar kontrakan bulanan. Juga cicilan kendaraan. Bahkan korban kelaparan mulai berjatuhan…

Namun demikian, selayaknya setiap Muslim tetap bergembira. Pasalnya, meski di tengah duka akibat wabah Covid 19, Ramadhan tetaplah istimewa. Sebabnya, Ramadhan akan selalu bertabur rahmat, maghfirah, pahala berlipat ganda dan pertolongan Allah Azza wa Jalla…

Puasa adalah ibadah yang tak ada tandingannya. Rasulullah saw. bersabda kepada Abu Umamah al-Bahili,

عَلَيْكَ بِالصِّيَامِ فَإِنَّهُ لاَ مِثْلَ لَهُ

“Hendaknya engkau berpuasa karena puasa itu ibadah yang tak ada tandingannya.”

(HR Ahmad dan an-Nasa’i).

Hal ini dikuatkan oleh hadits lain. Rasulullah saw. bersabda:

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصَّوْمُ، فَإِنَّهُ لِي وَ أَنَا أَجْزِيْ بِهِ

Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman, “Setiap amal manusia itu bagi dirinya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku. Akulah yang akan langsung memberikan pahalanya.”

(HR al-Bukhari dan Muslim)

Ibn Bathal dalam syarh atas hadis di atas menukil pernyataan Ibnu Uyainah, “Puasa itu identik dengan kesabaran. Sebabnya, orang yang berpuasa bersabar untuk tidak makan, minum dan berhubungan suami-istri (semata-mata karena Allah Azza wa Jalla).”

(Ibnu Bathal, Syarh Shahih al-Bukhari, 4/9).

Karena puasa identik dengan sikap sabar, maka orang-orang yang berpuasa akan diberi pahala tanpa batas sebagaimana orang-orang yang sabar. Allah Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sungguh orang-orang yang sabar itu diberi pahala tanpa batas.”

(QS. Az-Zumar: 10)

Artinya, karena begitu besarnya, pahala mereka tidak lagi ditakar, ditimbang dan dihitung.

(Al-Jazairi, Aysar at-Tafasir, 10/459)

Apalagi puasa di tengah-tengah wabah seperti saat ini. Tentu pahalanya akan jauh belipat-ganda. Sebabnya, puasa di tengah wabah menggabungkan setidaknya dua kesabaran: 1. Sabar dalam ketaatan, yakni menahan makan, minum dan hubungan suami-istri; 2. Sabar dalam menghadapi musibah, yakni wabah.

Bahkan pahala kesabaran menghadapi wabah setara dengan pahala orang yang mati syahid. Rasul saw. bersabda tentang tha’un,

فَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ-في رواية أخرى لأحمد: فَيَمْكُثُ فِي بَيْتِهِ-صَابِرًا مُحْتَسِبًا، يَعْلَمُ أَنَّهُ لَمْ يُصِبْهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ، إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ

“Tidaklah seorang hamba, saat tha’un (wabah) terjadi, berdiam di negerinya, dalam riwayat Imam Ahmad yang lain: lalu dia berdiam di rumahnya, seraya bersabar dan mengharap ridha Allah, dan dia menyadari bahwa tidak menimpa dirinya kecuali apa yang telah Allah tuliskan untuk dia, kecuali bagi dia pahala semisal pahala syahid.”

(HR al-Bukhari dan Ahmad)

Puasa adalah salah pintu untuk mewujudkan takwa. Allah Azza wa Jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu pernah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.”

(QS. Al-Baqarah: 183)

Takwa, menurut Sayidina Ali bin Abi Thalib ra., ditandai dengan empat hal: (1) al-khawf min al-jalîl (memiliki rasa takut kepada Allah Yang Mahaagung); (2) al-‘amalu bi at-tanzîl (mengamalkan al-Quran); (3) ar-ridhâ bi al-qalîl (ridha dengan yang halal walau sedikit); (4) al-istidâd li yawm ar-rahîl (mempersiapkan bekal untuk [menghadapi] hari penggiringan [Hari Kiamat].

(Ibn Yusuf ash-Shalihi asy-Syami, Subul al-Huda wa ar-Rasyad, 1/421)

Bagi siapapun yang bertakwa, Allah Azza,wa Jalla akan memberi dia setidaknya tiga jaminan: (1) jalan keluar atas segala kesulitan; (2) rejeki dari arah yang tak diduga; (3) kemudahan dalam segala urusan. Ketiganya itu Allah Azza wa Jalla jelaskan dalam al-Quran,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Siapa saja yang bertakwa kepada Allah, Dia pasti akan memberikan jalan keluar bagi dirinya dan akan memberi dia rejeki dari arah yang tidak dia sangka.”

(QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Maknanya, orang yang bertakwa akan diberi jalan keluar dari ragam kesulitan dunia dan akhirat, juga akan diberi rejeki dari jalan yang sebelumnya tidak pernah diharap-harapkan dan tidak diangan-angankan.

(Al-Jaza’iri, Aysar at-Tafasir, 4/274).

Allah Azza wa Jalla pun berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

“Siapa saja yang bertakwa kepada Allah, Dia pasti akan menjadikan urusannya mudah.”

(QS. Ath-Thalaq: 4)

Orang yang bertakwa akan diberi kemudahan dalam segala urusan dunia dan akhiratnya.”

(Ibnu al-Jauzi, Zad al-Ma’ad, 6/41).

Dengan demikian, di tengah ragam kesulitan yang dihadapi kita saat ini, khususnya akibat wabah Covid 19 yang melanda, kuncinya hanyalah satu: takwa. Dengan takwa, Allah Azza wa Jalla pasti akan memberi kita jalan keluar. Dengan takwa pula, Allah Azza wa Jalla pasti akan memberi kita kemudahan dalam segala urusan. Bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat…

Selain itu, takwa menjadi sebab datangnya ampunan Allah Azza wa Jalla dan pahala yang besar. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا

“Siapa saja yang bertakwa kepada Allah, Dia akan mengampuni kesalahan-kesalahannya dan memberi dia pahala yang besar.”

(QS. Ath-Thalaq: 5)

Mewujudkan takwa tak cukup dengan puasa. Di dalam al-Quran sendiri tak hanya ayat tentang kewajiban puasa yang diakhiri dengan frasa; _la’allakum tattaqun_ (agar kalian bertakwa). Allah Azza wa Jalla juga antara lain berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, beribadahlah kalian kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.”

(QS Al-Baqarah: 21)

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون

“Bagi kalian, dalam hukum qishash itu ada kehidupan, wahai orang-orang yang memiliki akal, agar kalian bertakwa.”

(QS. Al-Baqarah: 179)

وَ أَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus (Islam). Karena itu ikutilah jalan itu dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan lain hingga kalian tercerai-berai dari jalan-Nya. Yang demikian Allah perintahkan agar kalian bertakwa”.

(QS. Al-An’am: 153)

Berdasarkan ayat-ayat di atas, jelas bahwa tak cukup dengan puasa orang bisa meraih takwa. Ibadah (totalitas penghambaan kita kepada Allah Azza wa Jalla), pelaksanaan hukum Islam, serta keistiqamahan kita di jalan Islam dan dalam melaksanakan seluruh ajaran Islam, semua itulah yang bisa mengantarkan diri kita meraih takwa…

Jelas, totalitas ketakwaan ini hanya bisa diwujudkan dalam sistem kehidupan yang juga menerapkan ber-Islam secara total (kaffah).

Selain itu, tentu dibutuhkan pemimpin yang benar-benar bisa mewujudkan ketakwaan dalam dirinya. Pemimpin yang bertakwa adalah pemimpin yang amanah. Yang tidak mengkhianati Allah Azza,wa Jalla dan Rasul-Nya. Mereka tidak menyalahi al-Quran dan as-Sunnah. Mereka tak akan mengkriminalisasi Islam dan kaum Muslim. Mereka pun tidak akan memusuhi orang-orang yang memperjuangkan penerapan ajaran Islam. Bahkan mereka akan menerapkan Islam secara kâffah sebagai wujud totalitas ketakwaan mereka kepada Allah Azza wa Jalla…

Hanya dengan totalitas ketakwaan semacam itulah kita akan mendapatkan jaminan Allah Azza wa Jalla. Di antaranya: jalan keluar dari kesulitan, rejeki dari arah yang tak diduga dan kemudahan dalam semua urusan. Semua ini jelas amat kita perlukan. Terutama dalam menghadapi wabah Covid 19 seperti saat ini…

Kita diperintahkan oleh Allah Azza wa Jalla untuk berinfak, bersabar mengendalikan amarah dan saling memaafkan,

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ . الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Bersegeralah kalian meraih ampunan Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi kaum yang bertakwa; yaitu mereka yang menginfakkan (harta mereka) baik dalam kelapangan maupun dalam kesempitan, yang sanggup menahan amarah, yang biasa memberi maaf orang lain, dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”

(QS. Ali Imran: 133-134)

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *