MERAIH SUKSES RAMADHAN

Berdasarkan nash-nash syariah, sukses Ramadhan bagi seorang Muslim bisa dilihat dalam beberapa aspek. Pertama: Sukses meraih ampunan Allah Azza wa Jalla. Rasulullah. bersabda:

« رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَىَّ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ عِنْدَهُ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ فَلَمْ يُدْخِلاَهُ الْجَنَّةَ »

“Sungguh rugi seseorang yang ketika (nama)-ku disebut di sisi-Nya, dia tidak bershalawat atasku. Sungguh rugi seseorang yang bertemu dengan Ramadhan, lalu Ramadhan berlalu darinya sebelum dosa-dosanya diampuni. Sungguh rugi seseorang yang mendapati kedua orangtuanya dalam keadaan renta, tetapi keduanya tidak (menjadi sebab yang) memasukkan dia ke dalam surga”.

(HR at-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim).

Kedua: Sukses meraih kebaikan Lailatul Qadar. Rasulullah bersabda:

«إِنَّ هَذَا الشَّهْرَ قَدْ حَضَرَكُمْ وَفِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَهَا فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْرَ كُلَّهُ وَلاَ يُحْرَمُ خَيْرَهَا إِلاَّ مَحْرُومٌ»

“Sungguh bulan (Ramadhan) ini telah datang kepada kalian. Di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang tidak mendapatkan (kebaikan)-nya maka dia tidak mendapat kebaikan seluruhnya. Tidak ada yang diharamkan dari kebaikannya kecuali orang yang bernasib buruk”.

(HR. Ibnu Majah).

Ketiga: Sukses meraih secara maksimal keutamaan pahala amal salih yang dilipatgandakan seperti yang Allah Azza wa Jalla janjikan. Jika kesempatan terbatas itu terlewatkan, tentu itu merupakan kerugian besar. Karena itu sudah seharusnya setiap Muslim memperbanyak amal shalih selama Ramadhan. Bentuknya bisa berupa: tadarus al-Quran; memperbanyak shalat sunnah; membayar zakat dan meningkatkan sedekah; iktikaf, qiyamul lail, amar ma’ruf nahi mungkar; dan amal-amal taqarrub lainnya. Namun demikian, amal shalih yang paling utama di sisi Allah Azza wa Jalla adalah apa saja yang Dia wajibkan. Dalam sebuah hadis Qudsi Allah Azza wa Jalla berfirman:

مَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِمِثْلِ مَا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Tidaklah hamba-Ku bertaqarub kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang Aku fardhukan atas dirinya. Hamba-Ku terus bertaqarrub kepada-Ku dengan amal-amal nawafil hingga Aku mencintai dirinya”.

(HR. Al-Bukhari, Ibnu Hibban dan al-Baihaqi).

Karena itu amal-amal fardhu tentu harus diprioritaskan sebelum amal-amal sunnah. Ibn Hajar al-‘Ashqalani menyatakan di dalam Fath al-Bari, sebagian ulama besar mengatakan, “Siapa saja yang fardhunya lebih menyibukkan dia dari nafilah-nya maka dia dimaafkan. Sebaliknya, siapa yang nafilah-nya menyibukkan dia dari amal fardhunya maka dia telah tertipu.”

Keempat: Sukses dalam merealisasi hikmah pensyariatan puasa, yakni mewujudkan ketakwaan, sebagaimana firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa”.

(QS. Al-Baqarah: 183).

Jika ingin meraih sukses Ramadhan harus ditempuh melalui dua pendekatan. Pertama, meninggalkan segala perkara yang haram atau sia-sia. Tentu yang pertama harus ditinggalkan adalah apa saja yang membatalkan puasa dan apa saja yang bisa menggagalkan pahala puasa. Rasul saw. bersabda:

«الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِى الصِّيَامُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا»

“Puasa itu perisai, karena itu janganlah seseorang berkata keji dan jahil. Jika ada seseorang yang menyerang atau mencaci, katakanlah, “Sungguh aku sedang berpuasa,” sebanyak dua kali. Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, bau mulut orang berpuasa lebih baik di sisi Allah ketimbang wangi kesturi; ia meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya demi Diri-Ku. Puasa itu milik-Ku. Akulah Yang lansung akan membalasnya. Kebaikan (selama bulan puasa) dilipatgandakan sepuluh kali dari yang semisalnya”.

(HR. Al-Bukhari).

Kedua, menunaikan perkara-perkara wajib maupun sunnah. Yang utama tentu menunaikan puasa, kemudian qiyamul lail dengan dilandasi keimanan dan semata-mata mengharap ridha Allah Azza wa Jalla. Rasulullah bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَقَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa saja yang berpuasa Ramadhan dan menghidupkan Ramadhan dengan dilandasi keimanan dan semata-mata mengharap ridha Allah Azza wa Jalla niscaya diampuni dosanya yang telah lalu. Siapa saja yang menghidupkan Lailatul Qadar dengan dilandasi keimanan dan semata-mata mengharap ridha Allah Azza wa Jalla niscaya diampuni dosanya yang telah lalu”.

(HR. At-Tirmidzi).

Hadits ini sekaligus menunjukkan cara sukses meraih kebaikan Lailatul Qadar, yaitu menghidupkan malam tersebut dengan memperbanyak ibadah dan taqarrub kepada Allah Azza wa Jalla…

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *