KESABARAN ITU TAK BERBATAS

Terkadang karena terbiasa dengan kenikmatan dunia maka mejadikan kita tidak siap menghadapi berbagai ujian, hingga batas kesabaran pun menjadi sangat pendek. Hingga sering muncul ucapan “kesabaran itu ada batasnya”. Padahal mustahil kita bisa masuk surga sementara belum datang ujian dan cobaan dari Allah Azza wa Jalla untuk menentukan kelayakan kita masuk surga. Allah Azza wa Jalla berfirman,

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”

(QS. Al Baqarah: 214)

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

“صبرا جميلا ما أقرب الفرجا…

“Bersabarlah yang baik maka kelapangan itu begitu dekat…

من راقب الله في الأمور نجا…

Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dalam urusannya maka dia pasti akan selamat…

من صدق الله لم ينله أذى…

Barang siapa yang yakin dengan Allah Ta’ala, maka ia pasti tidak merasakan penderitaan…

و من رجاه يكون حيث رجا…”

Barangsiapa berharap kepada Allah Ta’ala maka Allah Ta’ala pasti akan memberi pertolongan…”

(Kitab Tafsir Ibnu Katsir 8/432)

Nabi Nuh belum tahu banjir akan datang ketika ia membuat kapal atas perintah-Nya dan ditertawai oleh kaumnya…

Nabi Ibrahim belum tahu akan tersedia domba ketika pisau nyaris menyembelih Nabi Ismail buah hatinya…

Nabi Musa belum tahu laut terbelah saat dia diperintah-Nya untuk memukulkan tongkatnya…

Yang mereka tahu adalah bahwa mereka harus patuh dan taat kepada perintah Allah Azza wa Jalla. Ketaatan tanpa nanti dan ketaatan tanpa tapi…

Ternyata di balik ketidaktahuan kita, Alah Azza wa Jalla telah menyiapkan kejutan untuk kita…

Seringkali Allah Azza wa Jalla berkehendak pada detik-detik terakhir dalam pengharapan dan ketaatan hamba-hamba-Nya…

Jangan kita berkecil hati saat sepertinya belum ada jawaban atas doa-doa kita. Karena kadang kala Allah Azza wa Jalla mencintai kita dengan cara-cara yang kita tidak duga dan kita tidak suka…

Allah memberi kepada kita segala apa yang kita butuhkan, bukan kepada segala apa yang kita inginkan. Karena Allah Azza wa Jalla Maha Mengetahui mana yang terbaik untuk kita…

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, semoga bencana Covid 19 yang kita alami sekarang ini sebagai penghapus dosa-dosa yang pernah kita lakukan,

قال رسول الله صلي الله عليه وسلم : ما يصيب المسلم من نصب لا وصب ولا هم ولا خزن ولا اذي ولا غم حتي الشوكة يشاكها الا كفر الله بها من خطاياه.

Rasulullah SAW bersabda : “Tidak ada yang menimpa seorang muslim berupa keletihan, sakit, kegalauan, sedih, menyakitkan, stres, hingga duri yang menusuk tubuhnya, melainkan dengan semua (musibah) tersebut Allah hapuskan semua dosa dosanya”.

( HR. Bukhari ).

Bulan Ramadhan ini adalah bulan yang istimewa jika dibandingkan dengan bulan yang lainnya, jangan sampai terlewatkan begitu saja dengan sia-sia. Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata:

“فَبَادِرُوا إِخْوَانِي شَهْرَكُمْ بِأَفْعَالِ الْخَيْرِ.

“Bersegeralah wahai saudara-saudaraku mengisi bulan (Ramadhan) ini dengan perbuatan-perbuatan kebaikan.

وَ أَفْرِدُوهَا عَنِ الْخَطَايَا لِتَكُونَ وَحْدَهَا لا غير.

Pisahkanlah perbuatan baik kalian dari segala bentuk dosa, sehingga sehingga murni hanya perbuatan baik tidak ada selainnya.

و اعلموا أن شهركم هذا شهر إِنْعَامٌ وَ مَيْرٌ.

Ketahuilah, bahwa bulan ini adalah bulan yang penuh anugerah dan pahala.

تَعْرِفُ حُرْمَتَهُ الْمَلائِكَةُ وَ الْجِنُّ وَ الطَّيْرُ.

Bulan yang para malaikat, para jin bahkan burung-burung pun mereka mengetahui kehormatan dan kemuliaannya.

وَاهًا.. لأَوْقَاتِهِ مِنْ زَوَاهِرَ مَا أَشْرَفَهَا.

Sungguh mengagumkan. Betapa mulianya kesempatan-kesempatan bercahaya yang terdapat padanya.

وَ لِسَاعَاتِهِ الَّتِي كَالْجَوَاهِرِ مَا أَظْرَفَهَا.

Waktu-waktunya bak permata yang penuh dengan kemenangan.

أَشْرَقَتْ لَيَالِيهَا بِصَلاةِ التَّرَاوِيحِ.

Malam harinya bercahaya dengan shalat tarawih.

وَ أَنَارَتْ أَيَّامُهَا بِالصَّلاةِ وَالتَّسْبِيحِ.

Siang harinya bersinar dengan shalat dan tasbih.

حِلْيَتُهَا الإِخْلاصُ وَالصِّدْقُ.

Perhiasannya adalah keikhlasan dan kejujuran.

وَ ثَمَرَتُهَا الْخَلاصُ وَ الْعِتْقُ.

Hasilnya adalah selamat dan bebas (dari api neraka).”

(Kitab At-Tabshirah, karya Ibnul Jauzi. 2/76)

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *