JIHAD YANG PALING UTAMA

Sesungguhnya nasehat itu jangan ditinggalkan dan diremehkan…

Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfa’at bagi orang-orang yang beriman”.

(QS. Adz-Dzariyat: 55)

Allah Azza wa Jalla menjamin, di antara orang yang tidak merugi adalah mereka yang mau saling menasehati di atas kebenaran dan kesabaran…

Allah Azza wa Jalla berfirman,

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali yang beriman dan beramal shaleh, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.”

(QS. Al-Ashr: 1-3)

Manusia adalah makhluk yang _dhaif_ (lemah) tentunya membutuhkan nasehat atau petuah orang lain untuk mengingatkan akan kekhilafannya, sebab manusia selalu di liputi kesalahan dan kehilafan yang disebabkan kelalaian sendiri akibat godaan syaitan. Untuk itu harus ada orang lain yang bisa menasehati, karena manusia bukan Malaikat atau Nabi yang maksum yang tidak pernah berbuat salah. Demikian juga karena iman itu selalu fluktuatif naik-turun sehingga membutuhkan siraman rohani…

Sudah semestinya setiap muslim bersemangat untuk menunaikan nasehat kepada sesama saudaranya demi terjaganya iman di dalam dirinya dan demi kebaikan saudaranya…

Nasehat merupakan pilar ajaran Islam. Di antara bentuk nasehat yang wajib dilakukan oleh setiap muslim adalah memberikan nasehat kepada saudaranya sesama muslim. Namun, nasehat ini tidak sempit sebagaimana yang diduga oleh sebagian orang. Karena hakikat dari nasehat adalah menghendaki kebaikan bagi saudaranya…

Dari Jarir bin Abdillah berkata,

بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

“Aku berbai’at kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم untuk senantiasa mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan nasehat (menghendaki kebaikan) bagi setiap muslim.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Tidaklah tepat sikap sebagian orang yang berucap, biarkan sajalah saudara kita melakukan kesalahan dan kekhilafan seperti itu. Karena arti nasehat menurut para ulama adalah menginginkan kebaikan kepada sesama muslim…

Al Hasan Al Bashri berkata,

إنَّ أحبَّ عبادِ الله إلى الله الذين يُحببون الله إلى عباده ويُحببون عباد الله إلى الله ، ويسعون في الأرض بالنصيحة

“Sesungguhnya hamba yang dicintai di sisi Allah adalah yang mencintai Allah lewat hamba-Nya dan mencintai hamba Allah karena Allah. Di muka bumi, ia pun memberi nasehat pada orang lain.”

(Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 224).

Dan memberi nasehat, tidak berarti merasa suci dan merasa benar sendiri. Tapi semata-mata menjalankan amanah agama…

Berkata Al-Hasan Al-Bashri,
“Wahai manusia, sesungguhnya aku tengah menasehati kalian, dan bukan berarti aku orang terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang paling shalih di antara kalian. Sungguh, akupun telah banyak melampaui batas terhadap diriku. Aku tidak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membawanya sesuai dengan kewajiban dalam menaati Rabb-nya. Andaikata seorang muslim tidak memberi nasehat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasehat. Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang-orang yang berdakwah di jalan Allah, tidak ada yang mengajak untuk taat kepada-Nya, tidak pula melarang dari memaksiati-Nya. Namun dengan berkumpulnya ulama dan kaum mukminin, sebagian memperingatkan kepada sebagian yang lain, niscaya hati orang-orang yang bertakwa akan hidup dan mendapat peringatan dari kelalaian serta aman dari lupa dan kekhilafan. Maka terus-meneruslah berada pada majelis-mejelis dzikir (majelis ilmu), semoga Allah mengampuni kalian. Bisa jadi (ada) satu kata yang terdengar (di sana) dan kata itu merendahkan (diri kita) namun sangat bermanfaat (bagi kita). Bertakwalah kalian semua kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.”

(Mawai’zh lil Imam Al-Hasan Al-Bashri, hlm. 185-187)

Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran menyampaikan keadilan di hadapan penguasa yang zalim.”

(HR. Abu Daud no. 4344, Tirmidzi no. 2174, Ibnu Majah no. 4011. Al Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Berdasarkan hadits di atas maka betapa menasehati, mengatakan kebenaran dan menyampaikan keadilan terhadap penguasa yang zalim termasuk jihad yang paling utama, karena diperlukan keberanian dan keteguhan untuk mengatakannya. Kita sampaikan jangan berlaku zalim meskipun berkuasa dan mampu untuk melakukannya, sesungguhnya Allah Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu,

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah, “Wahai Rabb Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

(QS. Ali ‘Imrân: 26)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الإمَارَةِ ، وَسَتَكونُ نَدَامَةً يَوْمَ القِيَامَة

“Nanti engkau akan begitu tamak pada kekuasaan. Namun kelak di hari kiamat, engkau akan benar-benar menyesal”

(HR. Bukhari no. 7148)

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *