TERPERANGKAP MASA LALU

Bagaimana kita bisa hidup dengan bahagia jika terus terperangkap dan dibayangi masa lalu yang menyiksa? Alih-alih bisa fokus menjalani masa kini, yang ada terjebak terus pada belenggu dan rasa bersalah masa lalu.

Setiap manusia pasti memiliki kisah masa lalu, entah kisah baik ataupun buruk. Kita sebagai manusia pun tidak bisa mengukur dan membandingkan pengalaman pahit yang pernah dialami dengan pengalaman orang lain. Seyogyanya masa lalu ada untuk dua hal, yaitu menjadi pelajaran dan dinikmati apa adanya. Seberapa sedih ataupun bahagia kisah kita, akan selalu ada pelajaran yang dapat dipetik. Ketika kita telah berhasil memetik dan memaknai pelajaran tersebut, kita akan lebih mudah untuk menikmati apa yang sudah terjadi. Dengan begitu, kita merasa lebih nyaman untuk mengingat masa lalu.

Manusia tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi, tetapi kita bisa mengubah pengaruh yang dirasakan dari kisah masa lalu. Masa lalu akan terus memengaruhi kehidupan selanjutnya sehingga kita perlu mencermati bagaimana pengaruhnya nanti terhadap diri kita.
Memang masa lalu tidak dapat diubah, dilupakan atau dihapus, tetapi hanya bisa diterima sebagai bagian dari kehidupan. Kita tidak bisa mengubah segala yang telah terjadi pada masa lalu, tidak peduli seberapa besar keinginan kita atau betapa menyesalnya kita karena apa yang terjadi.

Terkadang banyak sekali orang yang ingin memperbaiki kualitas dirinya dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, namun ketika ia mengingat dosa-dosa di masa lalunya yang begitu kelam dan gelap, dia menganggap dirinya paling kotor dan Allah Azza wa Jalla tidak akan menerima dirinya.
Sikap putus asa terhadap rahmat dari-Nya merupakan tipu daya syetan agar manusia berpaling dari Allah Azza wa Jalla, padahal rahmat Allah Azza wa Jalla sangatlah luas dan agung. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda,

اللَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا

“Sungguh Allah lebih penyayang terhadap hamba-hamba-Nya daripada seorang ibu terhadap anak bayinya”

(HR al-Bukhari (no. 5653) dan Muslim (no. 2754) dari ‘Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu)

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ

“Sesungguhnya Rabb-mu maha luas pengampunan-Nya.”

(QS. An-Najm: 32)

Allah Azza wa Jalla telah menunjukkan kepada kita betapa pemurah dan sayang kepada setiap hambanya. Setiap hamba yang ingin menghambakan, memperbaiki diri dan istiqamah di jalan yang telah Allah Azza wa Jalla tunjukkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Taubat (yang benar) akan menghapuskan (semua dosa yang dilakukan) di masa lalu”. Dalam hadits lain yang semakna, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

التائب من الذنب كمن لاذنب له

“Orang yang telah bertaubat dari dosa-dosanya (dengan sungguh-sungguh) adalah seperti orang yang tidak punya dosa“.

(HR Ibnu Majah no. 4250, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah)

Janganlah bersedih dan terpuruk atas banyaknya dosa-dosa kita di masa lalu, ketika kita tidak bisa mengubah masa lalu yang kelam tapi kita masih bisa untuk mengupayakan dan merubah masa depan menjadi lebih baik dan penuh rahmat.

Setelah kita menyadari bahwa tak ada yang bisa diubah dari masa lalu, maka kita akan mulai membuka hati dan menerima masa lalu sebagai bagian dari hidupmu. Namun, bukan berarti bahwa karena masa lalu adalah bagian dari kehidupan, maka kamu menjadi terperangkap dalam masa lalu.

Masa lalu adalah masa lalu, maka biarkan masa lalu pergi. Jika kita melakukannya, akan lebih mudah bagi kita untuk memaafkan diri sendiri dan menyembuhkan luka hati yang selama ini membuat kita sangat menderita. Bila kita terlalu berfokus dengan kenangan pahit masa lalu, maka kita akan lupa untuk meniti langkah hidup selanjutnya. Akan menjadi lebih baik jika kita mampu mengubah pandangan itu semua. Bukannya membiarkan diri menikmati kebencian, tetapi melihatnya sebagai suatu pelajaran berarti untuk semakin kuat bertahan.

Berdamai atau terjebak dengan masa lalu adalah kondisi yang harus kita sadari dalam diri kita. Ketika mendengar kata masa lalu, ada beragam perasaan yang muncul: pahit, sakit, dendam, amarah atau sukacita seperti perasaan haru, bahagia, memori indah, dan pembelajaran hidup. Bila sukacita yang dirasakan, maka beri apresiasi pada diri kita. Sementara itu, bila perasaan negatif yang dirasakan, mungkin jadi pertanda bahwa kita masih belum berdamai dengan masa lalu.

Guru terbaik adalah pengalaman. Jika pada masa lalu kamu membuat banyak kesalahan yang menyebabkan diri sendiri atau juga orang lain terluka, maka jangan sampai kamu menyembunyikan kesalahan-kesalahan yang telah kamu lakukan.
Menyadari segala kesalahan yang telah kamu buat adalah langkah awal untuk berdamai dengan diri sendiri. Setelah menyadari segala kesalahan, maka belajar lah dari kesalahan-kesalahan tersebut dan berjanji kepada diri sendiri untuk berusaha keras agar tak lagi mengulangi kesalahan yang sama.
Melakukan kesalahan adalah bagian dari menjadi manusia. Dari kesalahan-kesalahan lah kita sebagai manusia belajar, tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang semakin baik.

Manusia sudah memiliki jatah rezeki dan kesuksesannya masing-masing. Semuanya tergantung usaha serta konsistensi dalam mencapainya. Proses dan jangka waktu pencapaiannya juga berbeda-beda, karena semua orang punya _timeline_ hidupnya masing-masing.

Kita bukan manusia sempurna, tapi manusia yang sedang mencoba untuk menjadi lebih baik untuk diri kita sendiri dan mencoba berbagai opsi untuk hasil yang terbaik. Jika belum waktunya untuk berhasil, maka bersabarlah. Bersabar bukan berarti pasrah, tapi membiarkan dan mengizinkan diri kita untuk melakukan yang terbaik sebisa kita dan mengharapkan hasil yang terbaik…

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *