SALING MEMBERI NASIHAT

Sudah 75 Tahun kita telah “merdeka” dan tetap optimis mempertahankan “kemerdekaan” itu. Optimis bukan berarti kita tak pernah jatuh, sakit, lelah, maupun menangis…

Namun sikap ridha kita dengan semua takdir yang telah ditulis. Dan sikap ridha kita atas segala kejadian yang telah digaris…

Tak ada kegembiraan yang total. Tak ada kesedihan yang kekal. Tak ada sebuah tragedi yang fatal…

Selama kita punya tekad yang terpelihara dalam semangat, maka tiada kata terlambat bangkit untuk senantiasa memulai sebuah awal yang hebat…

Bukan kurangnya kemampuan yang melemahkan kehidupan kita. Tapi tidak cukupnya kesungguhan untuk mengoptimalkan kemampuan. Maka senantiasa diperlukan nasihat untuk memotivasi kehidupan agar tetap semangat dan tidak tersesat…

Nasihat itu selalu bermanfaat, jangan ditinggalkan dan diremehkan…

Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman”.

(QS. Adz-Dzariyat : 55)

Allah Azza wa Jalla menjamin, di antara orang yang tidak merugi adalah mereka yang mau saling menasehati di atas kebenaran dan kesabaran…

Allah Azza wa Jalla befirman,
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali yang beriman dan beramal shaleh, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.”

(QS. Al-Ashr: 1-3)

Manusia adalah makhluk yang _dhaif_ tentunya membutuhkan nasihat atau petuah orang lain untuk mengingatkan akan kekhilafannya, sebab manusia selalu diliputi kesalahan dan kehilafan yang disebabkan kelalaian sendiri akibat godaan syaitan. Untuk itu harus ada orang lain yang bisa menasehati, karena manusia bukan Malaikat atau Nabi yang maksum yang tidak pernah berbuat salah. Dan juga karena iman itu selalu fluktuatif naik-turun sehingga membutuhkan siraman rohani…

Sudah semestinya setiap muslim bersemangat untuk menunaikan nasihat kepada sesama saudaranya demi terjaganya iman di dalam dirinya dan demi kebaikan saudaranya…

Nasihat merupakan pilar ajaran Islam. Di antara bentuk nasihat yang wajib dilakukan oleh setiap muslim adalah memberikan nasihat kepada saudaranya sesama muslim. Namun, nasihat ini tidak sempit sebagaimana yang diduga oleh sebagian orang. Karena hakikat dari nasihat adalah menghendaki kebaikan bagi saudaranya…

Dari Jarir bin Abdillah berkata,

بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

“Aku berbai’at kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم untuk senantiasa mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan nasihat (menghendaki kebaikan) bagi setiap muslim.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Al Hasan Al Bashri berkata,

إنَّ أحبَّ عبادِ الله إلى الله الذين يُحببون الله إلى عباده ويُحببون عباد الله إلى الله ، ويسعون في الأرض بالنصيحة

“Sesungguhnya hamba yang dicintai di sisi Allah adalah yang mencintai Allah lewat hamba-Nya dan mencintai hamba Allah karena Allah. Di muka bumi, ia pun memberi nasihat pada orang lain.”

(Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 224).

Dan memberi nasihat, tidak berarti merasa suci dan merasa benar sendiri. Tapi semata-mata menjalankan amanah agama, yakni ber _amar ma’ruf nahi munkar._

Berkata Al-Hasan Al-Bashri, “Wahai manusia, sesungguhnya aku tengah menasihati kalian, dan bukan berarti aku orang terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang paling shaleh di antara kalian. Sungguh, akupun telah banyak melampaui batas terhadap diriku. Aku tidak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membawanya sesuai dengan kewajiban dalam menaati Rabb-nya. Andaikata seorang muslim tidak memberi nasehat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasehat. Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang-orang yang berdakwah di jalan Allah Azza wa Jalla, tidak ada yang mengajak untuk taat kepada-Nya, tidak pula melarang dari memaksiati-Nya. Namun dengan berkumpulnya ulama dan kaum mukminin, sebagian memperingatkan kepada sebagian yang lain, niscaya hati orang-orang yang bertakwa akan hidup dan mendapat peringatan dari kelalaian serta aman dari lupa dan kekhilafan. Maka terus-meneruslah berada pada majelis-mejelis dzikir (majelis ilmu), semoga Allah Azza wa Jalla mengampuni kalian. Bisa jadi (ada) satu kata yang terdengar (di sana) dan kata itu merendahkan (diri kita) namun sangat bermanfaat (bagi kita). Bertakwalah kalian semua kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.”

(Mawai’zh lil Imam Al-Hasan Al-Bashri, hlm. 185-187)

Kemerdekaan yang telah kita raih adalah berkat karunia Allah Azza wa Jalla melalui kegigigihan perjuangan pendahulu kita. Jangan kita sia-siakan begitu saja. Ingat, jangan sampai terlena, masih ada “penjajajahan” dalam berbagai manifestasinya yang mengancam kemerdekaan bangsa kita. Terlebih ketika korupsi, kolusi dan nepotisme masih dibiarkan meraja rela…

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *