MEMAKNAI KETERBATASAN AKAL

Berkata al-Imam asy-Syafii rahimahullah,

كما أن للعين حدا تقف عنده كذلك للعقل حد يقف عنده

“Sebagaimana mata memiliki keterbatasan yang ia pasti berhenti padanya, maka akal juga memiliki keterbatasan yang ia harus berhenti padanya.”

(Adabus Syafii)

Sangat benar apa yang dinyatakan oleh al-Imam asy-Syafii di atas. Masing-masing dari kita telah merasakan keterbatasan mata kita. Bagaimana ketika di malam hari ketika tiba-tiba listrik padam? Itulah keterbatasan mata kita. Seketika itu pula kita tidak bisa melihat apapun. Demikianlah ketika mata tidak mendapatkan cahaya. Tidak bisa melihat apapun. Ketika ada setitik cahaya ia bisa melihat dengan remang-remang. Demikian pula halnya dengan akal manusia. Sebagaimana tubuh manusia yang serba terbatas, akal juga memiliki keterbatasan yang ia harus berhenti ketika itu. Sebagai bukti terbatasnya akal, adakah orang yang bisa menjelaskan dimana ruhnya? Atau seperti apa ruhnya?

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk perintah Rabb-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.

(QS. Al-Isra’: 85)

Karena akal manusia terbatas maka sangat bergantung kepada petunjuk dari Allah Azza wa Jalla dalam menjalani kehidupan yang fana ini. Ketika tidak mendapatkan cahaya dan rahmat dari Allah Azza wa Jalla, ia akan berjalan dengan serampangan. Terlebih ketika si pemilik akal bukan orang yang memiliki kehati-hatian, sifat wara’, tidak takut kepada Allah Yang Maha Perkasa, maka yang muncul dari orang seperti ini hanyalah pendapat, perkataan, atau pikiran-pikiran ‘nyeleneh’ yang hanya akan membuat dirinya sengsara dan rusak sebelum membuat orang lain sengsara dan rusak…

Kata “akal” berasal dari bahasa Arab: _aqala, ya’qilu, aqlan._ Rangkaian ketiga huruf tersebut berkisar maknanya pada “menghalangi” dan (dari sana) lahir kata _‘iqal_ yang berarti “tali”. Mengapa “menghalangi” dan “tali”?

Tali yang biasanya berwarna hitam yang melilit kain yang menyelubungi kepala pria dalam pakaian Arab Saudi dinamai _‘iqal_ karena “tali” itu menghalangi” kain tersebut diterbangkan angin atau terjatuh. Demikian juga tali yang mengikat binatang agar tidak lepas/kabur…

Manusia tidak tepat disebut _antropomorfisme_ karena potensi dan keunggulan yang dimilikinya luar biasa besarnya. Akan tetapi manusia juga tidak bisa disebut sebagai makhluk _antroposentris,_ karena meskipun ia memiliki keunggulan dan keutamaan tetapi manusia masih memilki kelemahan fundamental. Manusia dikaruniai akal pikiran dan intelektualitas yang bertingkat-tingkat tetapi manusia memiliki kelemahan dasar sebagai pelupa ( _al-gafil_ ).

Sayed Hussen Nasr menyebut manusia lebih tepat disebut sebagai makhluk _teomorfis,_ suatu makhluk yang agung tetapi masih memiliki kekurangan. Karena kekurangannya itu maka manusia membutuhkan Allah Azza wa Jalla sebagai kekuatan ekstra untuk mengembalikan manusia dari kelemahannya sebagai makhluk pelupa ( _al-gafil_ ) menjadi makhluk yang sadar ( _al-dzakir_ ).
Manusia sebagai makhluk _teomorfi_ tidak sepantasnya bisa berperilaku sombong, angkuh, dan _’ujub,_ karena Allah Azza wa Jalla Maha Tahu kelemahan mendasar manusia. Sebaliknya manusia juga tidak bisa bersikap _pesimistik_ dan _under confidence_ karena satu-satunya makhluk yang mendapatkan kepercayaa dan kelebihan begitu besar dari Allah Azza wa Jalla. Sikap paling benar bagi manusia ialah bersikap optimisme ( _al-raja’_ ) yang diimbangi rasa takut ( _khauf_ ) dan dipandu dengan rasa _tawadhu’_ dan mawas diri. Usaha keras bagi manusia bukan jaminan meraih keberhasilan. Betapa banyak usaha provisional namun tidak berhasil dengan baik seperti direncanakan. Ini semua menjadi bukti bahwa sehebat apapun manusia masih tetap memilki keterbatasan. Karena itu manusia tidak boleh bangga dan angkuh yang ditandai dengan ketidak-taatannya terhadap segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya…

Ketahuilah bahwa akal adalah syarat agar seseorang bisa memahami sesuatu, sehingga membuat amalan menjadi baik dan sempurna. Oleh karena itu, akal yang baik saja yang bisa mendapatkan _taklif_ (beban syari’at) sehingga orang gila yang tidak berakal tidak mendapat perintah shalat dan puasa. Seseorang yang tidak memiliki akal adalah keadaan yang serba penuh kekurangan. Setiap perkataan yang menyelisihi akal adalah perkataan yang batil. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla telah memerintahkan kita untuk memperhatikan dan merenungkan Al Qur’an dengan menggunakan akal,

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an?”

(QS. Muhammad: 24)

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *