KEUTAMAAN MENJAGA LISAN

 

٣٩٠- قال ابن المبارك :
أخبرنا أبو الأشهب جعفر بن حيان، عن الحسن قال: كانوا يقولون: «إن لسان الحكيم من وراء قلبه، فإذا أراد أن يقول يرجع إلى قلبه، فإن كان له قال، وإن كان عليه أمسك، وإن الجاهل قلبه في طرف لسانه، لا يرجع إلى القلب، فما أتى على لسانه تكلم به» ، وقال أبو الأشهب: كانوا يقولون: «ما عقل دينه من لم يحفظ لسانه»

Imam Ibnul Mubarak berkata: telah mengkabarkan kepada kami Abu Ashab bin Hayyan dari Al-Hasan (Al-Bashriy) bahwa beliau berkata: Dulu mereka (salaf) mengatakan:
“Sesungguhnya lisan seseorang yang bijak itu di belakang hatinya. Maka apabila dia hendak berkata, dia kembalikan ke hatinya. Jika (bermanfaat) baginya maka dia akan mengatakannya, dan jika (bermadharat) atasnya maka dia akan menahannya. Dan sesungguhnya seseorang yang _Jahil_ (bodoh), hatinya berada di ujung lisannya, tidak kembali ke hati. Maka apa saja yang datang pada lisannya diapun  mengatakannya.”
Abul Asyhab berkata: Dulu mereka mengatakan:
“Tidak (termasuk) orang yang paham agama; orang yang tidak menjaga lisannya.”

(Azzuhd Warraqaiq: 390)

Betapa banyak kerusakan yang terjadi akibat lisan yang tidak dijaga. Betapa banyak dosa yang dituai akibat lisan yang tidak dikendalikan…

Kita semestinya senantiasa berhati-hati mengendalikan lisan kita. Belakangan ini muncul pernyataan salah seorang pejabat negara yang memantik polemik yang menyatakan “Semoga Sumatera Barat menjadi provinsi mendukung negara Pancasila,” dalam ucapannya secara virtual. Namun, tidak dijelaskan lebih rinci terkait pernyataan yang dimaksud…

Nasionalisme masyarakat Minang tidak perlu diragukan. Karena fakta sejarah Indonesia pada masa PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) yang berpusat di Bukittinggi di mana Presidennya adalah Syarifudin Prawiranegara menjadikan Indonesia tetap diakui Dunia dan masih ada setelah kejatuhan pemerintahan di Yogyakarta ke tangan Belanda dan Soekarno Hatta ditahan Belanda…

Jangan lupa bahwa di antara _The Founding Fathers_ (Bapak Bangsa) Indonesia adalah Orang Minang, Sumatera Barat. Seperti Dr. Drs. H. M. Hatta (Proklamator Kemerdekaan Indonesia), Mr. Prof. Moh. Yamin S.H (Perumus Pancasila), Tan Malaka (Penggagas konsep Negara Indonesia), Mr. Sutan Syahrir (Perintis Kemerdekaan Indonesia), H. Agus Salim (Diplomat Ulung Indonesia), dan Buya Moh. Natsir (Tokoh di balik terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia). Semoga kesalahan ucap ini dapat diselesaikan dengan meminta maaf dan masyarakat Minang memaafkannya…

Imam Abu Hatim al-Bustiy berkata:

الواجب على العاقل أن يلزم الصمت الى أن يلزمه التكلم،
فما أكثر من ندم إذا نطق وأقل من يندم إذا سكت”

“Wajib atas seseorang yang berakal untuk senantiasa diam sampai datang sesuatu yang mengharuskannya untuk bicara. Betapa banyak orang yang menyesal ketika berucap, dan sedikit orang yang menyesal ketika diam”…

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *