BELAJAR MENDENGARKAN KEBENARAN

Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.”

(HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

“Sesungguhnya hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah Azzacwa Jalla akan memalingkan hati manusia menurut kehendak-Nya.” Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa;

_“Allahumma mushorrifal quluub sharrif quluubanaa ‘ala tho’atik”_

“Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu.”

(HR. Muslim no. 2654)

Alhamdulillah Kita dikaruniai oleh Allah Azza wa Jalla satu mulut dan dua telinga. Maknanya ialah agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara. Komunikasi bukan hanya soal menyampaikan, melainkan juga kemampuan untuk mendengar. Saya menjadi teringat salah satu buku, yakni _Human Communication_ yang ditulis Tubbs & Moss. Pada bab terakhirnya dibahas khusus mengenai “belajar mendengarkan” atau istilahnya _silent communication._

Belajar mendengarkan ialah bagian dari komunikasi karena komunikasi tidak melulu soal bicara. Belajarlah mendengarkan karena manusia juga memiliki kebutuhan dasar untuk didengarkan. Saking kuatnya hubungan dua hal itu, huruf pembentuk kata _listen_ sama dengan kata _silent._ Ingin bisa _listen,_ ya _silent._ Ingin mampu untuk mendengar, ya diam…

Salah satu penyebab kegaduhan politik di negeri ini pun berasal dari kurangnya kemampuan untuk mendengar. Hasilnya yang kita lihat ialah aksi-aksi kelompok fanatik yang kerap menghalalkan segala cara untuk menumpas oposisinya, tanpa mau mengetahui lebih lanjut argumen orang-orang yang memiliki perspektif berbeda dan tanpa kehendak mengevaluasi keyakinannya. Mendengarkan menjadi hal yang sulit dilakukan karena merasa lawan bicaranya kurang kredibel atau tak bisa dipercaya. Hal lain yang juga mendorong rendahnya intensi mendengarkan dengan baik ialah rasa takut dikritik pihak lain…

Mengabaikan kata-kata orang ialah bentuk mekanisme pertahanan diri yang sebenarnya menunjukkan kesombongan, justru menghambat perkembangan dirinya. Bahkan, jika kita sudah mau mulai mendengar, masalah akan tetap ada jika kemampuan mendengar seseorang datang dengan pemikiran tertutup. Keyakinan bahwa hal yang benar tidak bersifat universal dan selalu ada sudut pandang lain yang mesti dihargai ialah modal utama untuk memiliki kemampuan ini. Boleh saja pada akhir perbincangan kedua belah pihak tetap tak bersepakat, tetapi niatan untuk menyerang atau mendoktrin lawan bicara dengan keyakinan pribadi pun sepatutnya tidak dibiarkan muncul. Tonton saja acara debat di TV atau perang statement para petinggi negeri ini di media massa atau di media sosial. Semua ingin bicara, semua ingin didengar karena semua merasa paling benar. Sesungguhnya kita tidak belajar dari berbicara, tapi kita akan belajar dari mendengarkan. Pada saat kita bicara, kita hanya akan mengulang hal yang sudah kita tahu. Namun dengan mendengar, kita akan belajar hal yang baru. Andai bangsa ini lebih banyak belajar untuk mendengar kebenaran daripada bicara, saya yakin betapa hebatnya bangsa ini…

Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-busti dalam kitabnya Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala menyampaikan, “Orang yang berakal seharusnya lebih banyak mempergunakan kedua telinga daripada mulutnya. Dia perlu menyadari bahwa dia diberi telinga dua buah, sedangkan diberi mulut hanya satu adalah supaya dia lebih banyak mendengar daripada berbicara.”

Dalam kitab tersebut Imam Abu Hatim menjelaskan bahwa seringkali orang menyesal di kemudian hari karena perkataan yang diucapkannya, sementara diamnya tidak akan pernah membawa penyesalan. Dan menarik diri dari perkataan yang belum diucapkan adalah lebih mudah daripada menarik perkataan yang telah terlanjur diucapkan. Hal itu dikarenakan apabila seseorang tengah berbicara, maka perkataan-perkataannya akan menguasai dirinya. Sebaliknya, apabila tidak sedang berbicara, maka dia akan mampu mengontrol perkataannya…

Diam untuk mendengar adakalanya lebih baik daripada berbicara jika apa yang dibicarakan lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Seperti menggibah, menuduh, sampai mefitnah, hingga menimbulkan pertikaian dan permusuhan…

Sebagaimana yang dikatakan Ali ibn Abi Thalib ra, “Seseorang mati karena tersandung lidahnya dan seseorang tidak mati karena tersandung kakinya. Tersandung mulutnya akan menambah (pening) kepalanya sedang tersandung kakinya akan sembuh perlahan.”

Banyak mendengar bukan berarti tidak boleh berbicara, namun perlu memilah dan memilih, mana waktu yang tepat untuk berbicara dan mana waktu yang tepat untuk mendengarkan…

Jagalah hati dengan menjauhi sikap sombong dengan tidak mau mendengar kebenaran yang justru akan membinasakanmu. Sombong yang dimaksud di sini adalah sebagaimana Rasulullah ﷺ ingatkan kepada umatnya. Beliau bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji dzarrah”. Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. *Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain*.“

(HR. Muslim no. 91).

Mungkin sedikit di antara kita yang hatinya sombong terhadap _al haq_, akan tetapi sering kali kita terjatuh dalam hati yang sombong merendahkan orang lain. Kesombongan semacam ini bukan hanya menimpa orang berkuasa terhadap orang yang lemah, orang kaya terhadap orang miskin, tetapi kadang pula menimpa seorang _thalabul ‘ilmi_ (menuntut ilmu) dengan kepandaiannya, sehingga hatinya keras, susah diberikan nasihat.

Syaikh Salim bin Ied al Hilali mengatakan,
“Sikap sombong adalah memandang dirinya berada di atas kebenaran dan merasa lebih di atas orang lain. Orang yang sombong merasa dirinya sempurna dan memandang dirinya berada di atas orang lain”

(Bahjatun Nadzirin, I/664)

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *