MELEMBUTKAN HATI & MENGHANCURKAN KETAMAKAN

Ucapan “andai saja kemarin” menggambarkan adanya penyesalan dan keinginan untuk merubah masa lalu. Tentu saja keinginan merubah masa lalu adalah sikap bodoh dan sia-sia…

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ – حديث صحيح رواه مسلم

“Orang mukmin yang tangguh lebih baik dan lebih Allah cintai dibanding mukmin yang lemah dan pada keduanya terdapat kebaikan. Upayakanlah segala yang bermanfaat bagimu, dengan tetap meminta pertolongan dari Allah dan jangan pernah merasa lemah/tidak berdaya.”

Bila kita ditimpa sesuatu maka ucapkanlah: “ini adalah takdir Allah dan apapun yang Allah kehendaki pastilah terjadi,” karena sejatinya ucapan “andai” hanyalah membuka pintu godaan setan.

(HR. Muslim)

Seseorang silih berganti datang dan pergi dalam kehidupan kita. Kadang mereka hanya sepersekian waktu hidup dalam sejarah kita, tak jarang juga mereka menetap mengendap dalam waktu kita, namun seberapa lamanya pun mereka menetap, mereka tetap harus meninggalkan kita jika saatnya telah tiba…

Setiap perjumpaan pasti akan berujung pada perpisahan. Anggap saja perpisahan itu sebagai sebuah kewajaran yang sudah pasti akan dilalui oleh mereka yang saling mengenal dan berinteraksi. Nikmati prosesnya saat mereka melukiskan warna warni pada kanvas kehidupan kita, hargai warna warni indah mereka yang melukis kanvas kita dengan keikhlasan mereka, apresiasikan warna warni itu dengan sewajarnya, bagaimanapun cerah atau gelapnya warna warni mereka yang telah tergores di hati kita perlahan dibawa waktu akan lamur juga warnanya didominasi warna warni baru dalam kajian makna kehidupan. Mungkin itulah keistimewaan waktu, waktu mampu membawa kita jauh dari seseorang atau bahkan membawa kita kembali dekat sekali tanpa sekat dengan seseorang…

Saat pertemuan dengan seseorang, hargai dan bersyukurlah sepenuhnya kepada Allah Azza wa Jalla yang telah mendatangkannya dalam dunia kita, namun jangan larut dalam pengharapan berlebihan untuk selamanya bersama karena itu akan melukai kita. Hakikat dari pertemuan adalah perpisahan. Silih berganti Allah Azza wa Jalla berbaik hati menghadirkan warna warni indah untuk menghiasi kanvas lukisan kehidupan kita, lihatlah bahwa kesemuanya itu berasal dan datang dari Allah Azza wa Jalla dan akan kembali kepada Allah Azza wa Jalla, entah mereka akan pergi karena takdir nadirnya kematian atau karena waktu hendak menempatkan warna warni mereka pada kanvas lukisan di luar diri kita…

Hidup di dunia ini tidaklah selamanya. Akan datang masanya kita berpisah dengan dunia berikut isinya. Perpisahan itu terjadi saat kematian menjemput, tanpa ada seorang pun yang dapat menghindar darinya. Karena Allah Azza wa Jalla telah berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati, dan Kami menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai satu fitnah (ujian), dan hanya kepada Kami lah kalian akan dikembalikan.”

(QS. Al-Anbiya`: 35)

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ
مُّشَيَّدَةٍ ۗ

“Di mana saja kalian berada, kematian pasti akan mendapati kalian, walaupun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.”

(QS. An-Nisa: 78)

Kematian akan menyapa siapa pun, baik ia seorang yang shalih atau durhaka, seorang yang turun ke medan perang ataupun duduk diam di rumahnya, seorang yang menginginkan negeri akhirat yang kekal ataupun ingin dunia yang fana, seorang yang bersemangat meraih kebaikan ataupun yang lalai dan malas-malasan. Semuanya akan menemui kematian bila telah sampai ajalnya, karena memang:

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ

“Seluruh yang ada di atas bumi ini fana (tidak kekal).”

(QS. Ar-Rahman: 26)

Ketika perpisahan telah tiba, simpan air mata kita, hargai pilihannya, maknai takdirnya. Warna warni itu akan meruap pada kanvas yang lebih membutuhkan kecerahan warna warni dalam lukisan lain. Manusiawi jika rasa kehilangan begitu menggerogoti kesakitan rasa kita. Rasa kehilangan adalah wujud kasih sayang yang tidak pernah tersampaikan pada yang dirindukannya. Seberapa besar rasa kehilangan itu menggerogoti kita akan semakin menyakiti perasaan kita yang tidak pernah memahami bahwa pertemuan hanyalah awal dari babak inti sebuah perpisahan. Bagaimana belajar dari arti perpisahan akan selalu membuat kita mampu menerima iradah (kehendak) Allah Azza Walla terhadap kehidupan kita. Setelah perpisahan akan ada jutaan pertemuan baru yang tiada pernah kita duga, semuanya silih berganti menghiasi lukisan kehidupan kita, sebagai hal yang sewajarnya terjadi dalam kefanaan duniawi ini. Seberapa kuatpun kita mempertahankan pertemuan agar tak menemui makna perpisahan, waktu tetap memiliki kekuatan yang lebih besar untuk memisahkan kita, kekuatan itu berasal dari iradah-Nya yang sudah mengatur segala sesuatunya dengan begitu sempurna…

Pertemuan dan perpisahan sejatinya merupakan pasangan dua sisi yang senantiasa akan kita temukan dalam perjalanan panjang kehidupan fana ini. Bergembiralah sewajarnya ketika warna warni cerah itu benar-benar kita sukai untuk mewarnai kanvas lukisan kehidupan kita, dan menangislah sewajarnya jika waktu perpisahan itu telah tiba waktunya untuk menjauh sesaat ataupun selamanya. Ini merupakan usaha memahami sesuatunya menjadi lebih sederhana. Mengingat perpisahan dan kematian akan melembutkan hati dan menghancurkan ketamakan terhadap dunia..

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *