MENGIKAT NIKMAT DENGAN BERSYUKUR

Kata yang paling sulit kita ucapkan barangkali adalah kata “cukup”. Kapankah kita bisa berkata cukup?

Hampir semua pegawai merasa gajinya belum sepadan dengan kerja kerasnya. Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih di bawah target. Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah hati, kurang perhatian…

Semua merasa kurang dan kurang. Kapankah kita bisa berkata cukup? “Cukup” bukanlah soal berapa jumlahnya. “Cukup” adalah persoalan kepuasan hati. “Cukup” hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri…

Tak perlu takut berkata “cukup”. Mengucapkan kata “cukup” bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya. “Cukup” jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, atau merasa pesimis, atau kecewa atau mandeg dan berpuas diri. Mengucapkan kata “cukup“ membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan…

Jangan biarkan kerakusan, ketamakan manusia membuat kita sulit berkata “cukup”. Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini dan seterusnya, dengan begitu kita menjadi orang yang pandai bersyukur…

Seringkali kita berkeluh kesah atas segala ketetapan dan pemberian Allah Azza wa Jalla, sedikit sekali yang bersyukur.
Allah Azza wa Jalla berfirman,

ثُمَّ سَوّٰىهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُّوحِهِۦ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصٰرَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)nya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.”

(QS. As-Sajdah: 9)

Demikianlah tabiat manusia, memang sedikit sekali yang bersyukur, Allah Azza wa Jalla mengingatkan kepada kita bahwa kelengkapan seluruh anggota tubuh kita yang Allah Azza wa Jalla ciptakan hendaknya kita bersyukur, nikmat sehat sehingga mampu beribadah dan aktifitas, belum lagi curahan rejeki yang begitu banyak, tapi ternyata memang sedikit sekali yang bersyukur…

Allah Azza wa Jalla yang Maha Rahman, mengulang ulang kalimat mulia ini hampir 31 kali dalam Al Qur’an Surat Ar Rahman, tidakkah kita merasa diingatkan dengan itu, artinya dengan segala apapun yang terjadi wajib nya untuk menghindari kufur nikmat. Allah Azza Wa Jalla berfirman,

فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

(QS. Ar-Rahman: 77)

وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْئَرُونَ

“Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.”

(QS. An-Nahl: 53)

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

(QS. An-Nahl: 18)

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang mengingatkan kita betapa penting dan wajibnya mensyukuri nikmat itu,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”.

(HR Bukhari, No. 5933)

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan:

“Kenikmatan adalah keadaan yang baik. Ada yang mengatakan, kenikmatan adalah manfaat yang dilakukan dengan bentuk melakukan kebaikan untuk orang lain”.

(Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, penjelasan hadits No. 5933)

Ibnu Baththaal rahimahullah mengatakan: “Makna hadits ini, bahwa seseorang tidaklah menjadi orang yang longgar (punya waktu luang) sehingga dia tercukupi (kebutuhannya) dan sehat badannya. Barangsiapa dua perkara itu ada padanya, maka hendaklah dia berusaha agar tidak tertipu, yaitu meninggalkan syukur kepada Allah Azza wa Jalla terhadap nikmat yang telah Allah berikan kepadanya. Dan termasuk syukur kepada Allah Azza wa Jalla adalah melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Barangsiapa melalaikan hal itu, maka dia adalah orang yang tertipu”.

Hidup nikmat itu bukan soal angka melainkan soal rasa. Nikmat itu akan datang bila kita mengikatnya dengan rasa syukur. Bersyukur dalam segala hal, kita akan bahagia dalam setiap keadaan…

Syukur adalah cara yang paling bijak untuk merasa lebih meski dalam kekurangan dan keterbatasan. Bersyukurlah atas apa yang kita miliki, kita tak akan pernah khawatir dengan apa yang belum kita miliki. Dalam kondisi apapun, Allah Azza wa Jalla akan menghadirkan kenikmatan dan kebahagiaan…

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *