MENJADI SARANA HIDAYAH

Menjadi sarana hidayah untuk satu orang saja kata Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam,

خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرِ النَّعَمِ

“Lebih baik dari daripada engkau mendapatkan unta merah.”

(Muttafaqun ‘alaih)

Bagaimana kalau banyak orang? MasyaAllah pasti tak ternilai. Maka marilah kita berperan menjadi sarana hidayah untuk orang-orang di sekitar kita dengan senantiasa _beramar ma’ruf nahi munkar_, saling menasehati untuk menta’ati kebenaran dan kesabaran, saling mengingatkan agar kita berupaya dengan segenap kemampuan kita senantiasa melaksanakan segala perintah-Nya dan berupaya dengan segenap kemampuan kita untuk senantiasa menjauhi segala larangan-Nya. Semoga semakin banyak orang yang menjadi lebih baik iman dan ibadahnya atas sarana hidayah kita…

Sajikan dan hantarkan saja hidayahnya. Siapa yang dapat itu kehendak Allah Azza wa Jalla,

مَن يَهدِ ٱللَّهُ فَهُوَ ٱلمُهتَدِ وَمَن يُضلِل فَلَن تَجِدَ لَهُۥ وَلِيّا مُّرشِدا

“Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”

(QS. Al-Kahfi: 17)

Seorang Muslim dalam kehidupannya senantiasa membutuhkan hidayah dari Allah Azza wa Jalla untuk menjaga konsistensi keimananannya. Dimungkinkan paginya seorang beriman namun sore harinya ia– menjadi kafir. Sorenya beriman namun di pagi harinya ia menjadi kafir. Karena tak seorangpun beriman kecuali mendapat izin dari Allah Azza wa Jalla,

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَن تُؤْمِنَ إِلاَّ بِإِذْنِ اللّه

“Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah.”

(QS. Yunus: 100)

Manusia membutuhkan hidayah lebih dari kebutuhan mereka terhadap makan dan minum. Bahkan Allah Azza wa Jalla memerintahkan kaum Muslimin dalam shalatnya untuk senantiasa memohon hidayah kepada Allah Azza wa Jalla sebanyak tujuh belas kali setiap harinya. Seorang muslim senantiasa berdoa di dalam shalatnya,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”

(QS. Al Fatihah: 6)

Ini menunjukkan betapa pentingnya hidayah itu dalam hidup dan kehidupan manusia. Betapa pentingnya masalah hidayah, banyak manusia yang memohon dan mengharapkan hidayah menyapa dirinya. Tapi sayang, mereka tidak mau berusaha untuk menjalankan sebab-sebabnya. Hidayah tidak akan datang secara tiba-tiba dan gratis. Hidayah memerlukan perjuangan untuk mendapatkan agar Allah Azza wa Jalla menghendakinya…

الله يهدي من يشاء

“Dan Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya.”

(QS. An Nuur: 46)

“hidayah itu mahal”. Ya, hidayah memang mahal. Ia tidak diberikan kepada orang-orang yang hanya bisa mengharap tanpa mau berusaha. Ia diberikan hanya kepada mereka yang mau bersungguh-sungguh mencarinya dan berusaha mendapatkannya. Allah Azza wa Jalla juga berfirman,

مَنْ يَشَأِ اللَّهُ يُضْلِلْهُ وَمَنْ يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.”

(QS. Al An’am: 59)

Dalam masalah hidayah ini, Ibnu Rajab rahimahullah telah membagi manusia menjadi tiga bagian : Pertama, رَاشِدٌ (râsyid), yaitu orang yang mengetahui kebenaran dan mengikutinya. Kedua, غَاوِيٌ (ghâwi), yaitu orang yang mengetahui kebenaran tapi tidak mau mengikutinya. Dan ketiga, ضّالٌّ (dhal), yaitu orang yang tidak mengetahui hidayah secara menyeluruh. Setiap râsyid, dia mendapat petunjuk, dan setiap orang yang mendapat petunjuk secara sempurna maka ia dikatakan râsyid. Karena hidayah menjadi sempurna apabila seseorang mengetahui kebenaran dan mengamalkannya…

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Maksudnya, tuntun kami dan tunjuki kami serta berikan kami taufik kepada jalan yang lurus. Yaitu jalan yang jelas yang mengantarkan kita kepada Allah Azza wa Jalla dan surga-Nya. Jalan tersebut adalah mengenal kebenaran dan mengamalkannya. Maka, tunjuki kami kepada jalan yang lurus dan tunjuki kami di dalam jalan yang lurus tersebut…

Maksudnya, tunjuki kami ke jalan yang lurus adalah berpegang teguh pada agama Islam. Dan makna tunjuki kami di dalam jalan yang lurus adalah mencakup hidayah kepada semua perincian agama secara ilmu dan amal. Doa ini merupakan doa yang paling menyeluruh dan bermanfaat bagi hamba. Karenanya, wajib bagi seorang hamba untuk berdoa kepada Allah Azza wa Jalla dengan doa ini di setiap rakaat shalatnya…

Manusia pada dasarnya mempunyai kemampuan dan pilihan, tidaklah bab tentang hidayah ini lebih tersembunyi dari bab rezeki. Seorang manusia sebagaimana diketahui bagi semua telah ditakdirkan kepadanya rezeki yang telah ditentukan, bersamaan dengan itu ia berusaha untuk melaksanakan sebab-sebab (mendapatkan) rezeki di daerahnya dan di luar daerahnya baik ke arah kanan maupun ke arah kiri, tidak duduk di dalam rumahnya dan berkata: “Jika rezeki telah ditakdirkan kepadaku, maka ia akan mendatangiku”, akan tetapi ia berusaha untuk melaksanakan sebab-sebab datangnya rezeki karene rezeki itu sendiri berkaitan dengan amal, sebagaimana riwayat yang telah ditetapkan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rezeki tersebut juga tertulis, sebagaimana amal shaleh atau buruk pun tertulis, maka bagaimana kita bisa pergi ke kanan dan ke kiri dan mengelilingi bumi dan padang yang luas untuk mencari rezeki dunia, dan kita tidak mengamalkan amal shaleh untuk mencari rezeki akhirat dan sukses dengan alam kenikmatan…

Sungguh dua pintu itu satu, tidak ada perbedaan di antara keduanya, sebagaimana kita berusaha untuk mendapatkan rezeki berusaha untuk kehidupan kita, panjangnya umur kita, maka jika kita sakit dengan penyakit tertentu, kita pergi ke ujung dunia karena menginginkan dokter yang pandai yang mengobati penyakit kita, bersamaan dengan itu maka apa yang telah ditakdirkan dari ajal tidak bertambah dan tidak berkurang, dan tidaklah kita bersandar kepada hal ini dan berkata: “Kita tetap tinggal di rumah dalam kondisi sakit terlantar, jika Allah Azza wa Jalla telah mentakdirkan tambahan ajal kepada kita maka akan bertambah”. Akan tetapi kita dapatkan kita berusaha semampu kita dari kekuatan, pencarian untuk mencari dokter yang menurut kita menjadi manusia terdekat agar Allah Azza wa Jalla mentakdirkan kesembuhan kita (melalui) dokter tersebut.
Maka mengapa amal kita di jalan akhirat dan di dalam amal shaleh tidak seperti jalan kita dalam beramal untuk dunia ?

Manusia itu berjalan di atas amal pilihannya, sebagaimana ia berjalan dengan amal dunianya dengan cara pilihan, maka demikian juga jalannya menuju akhirat akan berjalan sesuai dengan pilihannya. Bahkan jalannya akhirat jauh lebih jelas dari pada jalannya dunia; karena yang menjelaskan jalannya akhirat adalah Allah Azza wa Jalla di dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka jalannya akhirat harus jauh lebih jelas dan jauh lebih terang daripada jalannya dunia. Bersamaan dengan itu sungguh manusia berjalan di atas jalan dunia yang tidak ada jaminan akan hasilnya; akan tetapi dia meninggalkan jalan akhirat yang hasilnya terjamin dan diketahui; karena hal itu pasti dengan janji Allah Azza wa Jalla dan Allah Azza wa Jalla tidak pernah mengingkari janji-Nya…

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *