TAUBAT BERMAKSIAT MENUJU TAAT

Tidak ada seorangpun yang bisa mengubah masa lalunya, namun semua orang bisa merencanakan masa depannya. Orang yang dahulu sering berbuat maksiat boleh jadi kemudian bertaubat dan menjadi taat. Hidup ini adalah sebuah perjalanan. Pernahkah kita memikirkan bahwa hidup ini hakikatnya adalah perjalanan? Pernahkah kita merenungkan hidup di dunia ini tidak lain adalah sebuah perjalanan menuju kepada Allah Azza wa Jalla?

Tidakkah kita mengingat sabda Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wa sallam,

كلّ الناسِ يغدو؛ فبائعٌ نَفسَه فمُعتِقها أو موبِقها

“Setiap hari semua orang melakukan perjalanan hidupnya, keluar mempertaruhkan dirinya! Ada yang membebaskan dirinya dan ada pula yang mencelakakannya!”

(HR. Imam Muslim)

Oleh karena itu Allah Azza wa Jalla dalam firman-Nya telah menjelaskan,

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ

Pada hari di mana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,

إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat”.

(QS. Asy-Syu’araa`: 88-89)

Allah Azza wa Jalla juga berfirman,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun dalam beribadat kepada Tuhannya”.

(QS. Al-Kahfi : 110)

Memang demikianlah hidup ini, yang diharap dan yang dituju adalah Allah Azza wa Jalla, berjumpa dengan-Nya, menghadap kepada-Nya dan melihat wajah-Nya serta untuk meraih ridha-Nya…

Jika Allah Azza wa Jalla sedang menguji saudara-saudara kita dengan sakit, hendaklah tetap bersabar dengan takdir Allah Azza wa Jalla dan terus berdoa memohon kesembuhan hanya kepada-Nya. Sebagimana kisah Nabi Ayyub ‘alaihis salaam yang Allah Ta’ala ceritakan dalam firman-Nya,

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآَتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ

“Dan ingatlah kisah Ayyub, ketika dia menyeru Rabb-nya, ’Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang’. Maka Kami pun memperkenankan doanya itu, lalu kami lenyapkan penyakit yang ada padanya. Dan kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah”.

(QS. Al-Anbiya’ : 83)

Allah Azza wa Jalla pun memuji kesabaran Nabi Ayyub ‘alaihis salaam ini dalam firman-Nya,

إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ

“Sesungguhnya kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat kepada Rabb-nya”.

(QS. Shaad : 44)

Di antara bentuk kesabaran tersebut adalah dalam situasi dan kondisi seperti apapun senantiasa taat, menahan diri untuk tidak berbuat maksiat. Orang-orang yang tidak taat malah berbuat maksiat, adalah cerminan orang-orang yang tidak bisa bersabar. Karena sabar tidak hanya mencakup bersabar dalam menghadapi musibah, namun juga mencakup kesabaran dalam melaksanakan ketaatan dan juga bersabar untuk tidak bermaksiat kepada-Nya…

Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لا نَسْأَلُكَ رِزْقاً نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, Kami-lah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa”.

(QS. Thaha : 132)

Allah Azza wa Jalla juga berfirman tentang Nabi Yusuf ‘alaihis salaam,

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Yusuf berkata, ‘Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dariku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh”.

(QS. Yusuf: 33)

Tak ada ihtiar yang sia-sia. Semua pasti ada hikmah dan hasilnya. Jangan ubah diri kita karena kita takut akan tekanan dari orang lain hingga kita ikut terlibat berbuat maksiat. Segeralah untuk bertaubat. Ubahlah diri kita karena kita ingin senantiasa menjadi lebih baik dan lebih taat…

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *