SEMUA ATAS IZIN ALLAH

Saat ini, kita di sini, dalam situasi dan kondisi seperti ini adalah atas izin Allah Azza wa Jalla. Tidak ada sesuatu apapun yang kebetulan. Semua pasti ada hikmahnya. Semua dengan izin Allah Azza wa Jalla…

Bersendikan kalimat Tauhid _Laa ilaaha illallaah_ menjadikan kita dalam Qudrat ini untuk mengabdi kepada Allah Azza wa Jalla. Maka, kita berbuat karena atas perintah Allah Azza wa Jalla dan hanya mengharap ridha-Nya…

Kejadian pencurian, pun terjadi atas izin Allah Azza wa Jalla, tapi perbuatan mencuri itu tidak diridhai Allah Azza wa Jalla. Bagi kita yang kecurian atau kehilangan, tentu ridha terhadap taqdir Allah Azza wa Jalla, hingga Allah Azza wa Jalla pun ridha pada kita…

Dalil tentang semua atas izin Allah Azza wa Jalla terdapat dalam firman-Nya,

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).”

(QS. Al-An’am: 59)

Pada ayat lain disebutkan bahwa kunci-kunci perkara yang ghaib itu ada lima,

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنزلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Kunci-kunci perkara yang ghaib itu ada lima, tidak ada yang mengetahuinya kecuali hanya Allah. Yaitu yang disebutkan dalam firman-Nya: Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang:
1. Hari Kiamat,
2. Dialah yang menurunkan hujan,
3. Mengetahui apa yang ada dalam rahim,
4. Tiada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan diusahakannya besok,
5. Tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

(QS. Luqman: 34)

Berkaitan dengan ayat ini, Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu menjelaskan, bahwa tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia (Allah) mengetahuinya. Juga tidak ada sebuah pohon pun, baik di daratan maupun di lautan, melainkan ada Malaikat yang diperintahkan untuk menjaganya. Malaikat itu mencatat daun-daun yang gugur dari pohon itu…

Ibnu Abu Hatim menambahkan, bahwa tidak ada suatu pohon pun di bumi, tidak pula sebuah biji pun yang ditanam melainkan padanya terdapat Malaikat yang ditugaskan oleh Allah Azza wa Jalla untuk melaporkan kepada-Nya apa yang terjadi pada pohon itu. Termasuk mengenai masa lembabnya apabila mengalami kelembaban, dan masa keringnya apabila mengalami kekeringan…

Karena semua atas izin Allah Azza wa Jalla dan diketahui-Nya, maka marilah kita lebih berhati-hati lagi dalam bertutur kata dan bertindak, agar senantiasa selaras dengan tuntunan Allah Azza wa Jalla. Juga tidak menyandarkan segala sesuatunya pada orang lain atau pada diri sendiri. Namun menyandarkannya mutlak kepada Allah Azza wa Jalla…

Karena semua sudah tercatat, kita juga tahunya setelah terjadi. Maka, tidak boleh ada sedikitpun rasa su’udzan, prasangka buruk, menolak taqdir, dan seandainya begini, seandainya begitu. Karena semuanya berlangsung atas izin-Nya semata…

Segala mudharat dan manfaat, anugerah dan musibah, terjadi atas izin Allah Azza wa Jalla. Jadi, tidak perlu cemas berlebihan, berharap berlebihan, semuanya wajar saja. Semua pasti ada hikmahnya, tinggal kita tingkatkan tawakkal kepada-Nya…

Untuk itu, marilah kita menggapai ridha Allah Azza wa Jalla di setiap waktu, tempat dan kesempatan. Dan kita berharap, jangan sekejap pun terlepas dari Allah Azza wa Jalla. Seperti doa pagi dan sore yang diajarkan Nabi Muhammad Shallalahu ‘Alaihi Wasallam,

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ
وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ
وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا

“Wahai Yang Maha Hidup, wahai Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dari-Mu selamanya.”

(HR Ibnu As-Sunni, An-Nasa’i, Al-Bazzar dan Al-Hakim. Sanad hadits hasan – Al Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah)

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *