BERSABAR & BERSYUKUR DALAM SEGALA KEADAAN

Disadari ataupun tidak disadari, terkadang di saat kita senang atas segala sesuatu yang telah didapat dari kehidupan di dunia, kita justru lupa bahwa hidup di dunia ini adalah sebuah ujian, baik ujian kebaikan maupun keburukan, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla,

… وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةً۬‌ۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ (٣٥)

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kami-lah kalian dikembalikan.”

(QS. Al-Anbiyaa’: 35)

Mengenai ayat ini, salah seorang ahli tafsir di zaman shahabat, Ibnu Abbas radhiyallahu mengatakan: “(Kami uji kalian) dengan kesusahan dan kesenangan, dengan sehat dan sakit, dengan kekayaan dan kefakiran, serta dengan yang halal dan yang haram. Semuanya adalah ujian.”
Ibnu Yazid rahimahullah mengatakan: “Kami uji kalian dengan sesuatu yang disenangi dan yang dibenci oleh kalian, agar Kami melihat bagaimana kesabaran dan syukur kalian.” Al-Kalbi rahimahullah berkata: “(Maksud Kami uji) dengan kejelekan adalah yang berupa kefakiran dan musibah. Sedangkan diuji dengan kebaikan adalah yang berupa harta dan anak.” Dalam ayat lain, Allah Azza wa Jalla juga berfirman,

فَأَمَّا ٱلۡإِنسَـٰنُ إِذَا مَا ٱبۡتَلَٮٰهُ رَبُّهُ ۥ فَأَكۡرَمَهُ ۥ وَنَعَّمَهُ ۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكۡرَمَنِ (١٥) وَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبۡتَلَٮٰهُ فَقَدَرَ عَلَيۡهِ رِزۡقَهُ ۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهَـٰنَنِ (١٦) كَلَّا‌ۖ بَل لَّا تُكۡرِمُونَ ٱلۡيَتِيمَ (١٧)

“Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: ‘Rabbku telah memuliakanku.’ Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: ‘Rabbku menghinakanku.’ Sekali-kali tidak (demikian).”

(QS. Al-Fajr: 15-17)

Perhatikanlah ayat-ayat ini, bagaimana Allah Azza wa Jalla menguji hamba-Nya dengan memberikan kemuliaan, nikmat, dan keluasan rezeki, sebagaimana pula Allah Azza wa Jalla mengujinya dengan menyempitkan rezeki. Dalam ayat ini Allah Azza wa Jalla mengingkari orang yang menyangka bahwa diluaskannya rezeki seorang hamba merupakan bukti pemuliaan Allah Azza wa Jalla kepadanya dan disempitkannya rezeki adalah bentuk dihinakannya hamba.
Allah Azza wa Jalla mengingkari ucapan orang tersebut melalui firman-Nya, “Sekali-kali tidak”, yakni perkara yang sebenarnya tidak seperti yang diucapkan oleh sebagian besar orang. Bahkan Allah Azza wa Jalla terkadang menguji dengan nikmat, sebagaimana terkadang Allah Azza wa Jalla memberi nikmat dengan cobaan. Hal ini diperkuat dengan firman Allah Azza wa Jalla yang lainnya,

وَهُوَ ٱلَّذِى جَعَلَڪُمۡ خَلَـٰٓٮِٕفَ ٱلۡأَرۡضِ وَرَفَعَ بَعۡضَكُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٍ۬ دَرَجَـٰتٍ۬ لِّيَبۡلُوَكُمۡ فِى مَآ ءَاتَٮٰكُمۡ‌ۗ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ ٱلۡعِقَابِ وَإِنَّهُ ۥ لَغَفُورٌ۬ رَّحِيمُۢ (١٦٥)

“Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu.”

(QS. Al-An’am: 165)

Juga firman-Nya:

إِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَى ٱلۡأَرۡضِ زِينَةً۬ لَّهَا لِنَبۡلُوَهُمۡ أَيُّہُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلاً۬ (٧)

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik amalannya.”

(QS. Al-Kahfi: 7)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ لِكُلِ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ

“Sesungguhnya bagi tiap umat ada fitnah (ujian yang menyesatkan), dan fitnah umatku adalah harta.”

(HR. At-Turmudzi)

Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitab ‘Uddatush Shabirin’ mengutip ucapan Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah mengatakan: “Bukan termasuk yang mendalam ilmunya bila seseorang tidak menganggap bala (musibah) sebagai nikmat dan kenikmatan sebagai cobaan.”
Musibah dianggap sebagai nikmat karena musibah yang menimpa seorang mukmin adakalanya sebagai penghapus dosa yang dilakukannya, atau untuk meninggikan derajatnya, atau sebagai cambuk peringatan agar dia kembali ke jalan Allah Azza wa Jalla.

Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya Allah Azza wa jalla telah menentukan watak kalian sebagaimana telah menentukan rezeki di antara kalian. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla juga memberi harta kepada orang yang Dia cintai dan orang yang Dia benci. Namun Allah Azza wa Jalla tidak memberi keimanan kecuali kepada yang Dia cintai.”
Allah Azza wa Jalla memberikan harta dan kedudukan kepada orang yang Dia cintai dari kalangan para nabi dan wali, seperti Nabi Sulaiman alaihissalam dan shahabat ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Sebagaimana Dia memberi kemewahan dunia sementara kepada para musuh-Nya semisal Fir’aun dan Qarun. Hal ini seperti yang Allah Azza wa Jalla firmankan,

كُلاًّ۬ نُّمِدُّ هَـٰٓؤُلَآءِ وَهَـٰٓؤُلَآءِ مِنۡ عَطَآءِ رَبِّكَ‌ۚ وَمَا كَانَ عَطَآءُ رَبِّكَ مَحۡظُورًا (٢٠)

“Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Rabbmu. Dan kemurahan Rabbmu tidak dapat dihalangi.”

(QS. Al-Isra’: 20)

Oleh sebab itu, janganlah seorang tertipu bila melihat orang kafir dan para pelaku maksiat diberi kemewahan dunia dan kedudukan terpandang. Karena itu adalah _istidraj_ (kesenangan sesaat) bagi hamba dari Allah Azza wa Jalla…
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ

“Bila kamu melihat Allah Azza wa Jalla memberi hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah _istidraj_ (kesenangan sesaat) dari Allah.”

(HR. Ahmad)

Syukurilah nikmat yang telah diberikan oleh Allah Azza wa Jalla, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

وعن أبي يحيى صهيب بن سنانٍ – رضي الله عنه – ، قَالَ : قَالَ رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – : (( عَجَباً لأمْرِ المُؤمنِ إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خيرٌ ولَيسَ ذلِكَ لأَحَدٍ إلاَّ للمُؤْمِن : إنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكانَ خَيراً لَهُ ، وإنْ أصَابَتْهُ ضرَاءُ صَبَرَ فَكانَ خَيْراً لَهُ )) رواه مسلم .

Dari Abu Shuhaib bin Sinan radhiyallahu’anhu, dia berkata, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya baik baginya. Dan yang demikian itu hanya ada pada seorang mukmin. Jika mendapat kesenangan dia bersyukur, maka syukur itu baik baginya. Dan jika mendapat musibah dia bersabar, maka sabar itu baik baginya.”

(HR. Muslim)

Keadaan manusia ketika mendapat musibah, ada yang beriman dan ada yang tidak beriman (orang kafir). Orang yang beriman akan bersabar dan mencari jalan keluar seraya mengharap pahala. Sedangkan orang yang tidak beriman akan senantiasa mencela/mengumpat, meratapi, berandai-andai dengan waktu. Dan orang yang beriman jika mendapat nikmat maka dia bersyukur dengan sebenar-benarnya, yaitu hati yang mengakui bahwa nikmat tersebut dari Allah Yang Maha Pemberi Rizki, lalu lisannya memuji Allah Azza wa Jalla dan menyebut-nyebut nikmatnya, kemudian menggunakan nikmat tersebut dalam ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla. Dalam hadits tersebut mengandung perintah bersabar karena kesabaran merupakan sarana kebaikan. Begitu juga perintah untuk bersyukur, karena syukur adalah penyebab bertambahnya nikmat.
Hadits tersebut juga mengandung konsekuensi bahwa keadaan orang kafir ketika mendapat nikmat juga buruk, karena setiap langkahnya adalah maksiat kepada Allah Azza wa Jalla, karena mereka senantiasa berada dalam kemaksiatan yang paling besar selama masih dalam keadaan kafir..

Marilah kita senantiasa bersabar dan bersyukur dalam segala keadaan, yakinlah bahwa janji Allah Azza wa Jalla pasti benar. Percayalah, bersabar dan bersyukur, akan membuahkan kebahagiaan hidup yang hakiki hingga di akhirat nanti…

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *