Al Hafidz Abu Naim dalam “Hilyatul Aulya” dari Hatim al Asham menyatakan,

“مَن أصبحَ وهو مُستقِيمٌ في أربعَةِ أشياءٍ فهو يَتَقَلّبُ في رِضا الله: أوَّلهُا الثقةُ بالله, ثم التوكل, ثم الإخلاص, ثم المعرفة، والأشياء كلها تتم بالمعرفة”. فصل الخطاب في الزُّهُدِ والرَّقَائِقِ والآدَابِ – الجزء الثامن

“Barangsiapa yang istiqamah berada dalam empat hal, maka ia akan mendapat ridha Allah. Yakni tsiqah kepada Allah, tawakkal, ikhlas, dan na’firat. Dan segala sesuatunya akan sempurna dengan ma’rifat kepada Allah.”

(Fashlu al Khitab, Fi Zuhud, war Raqaaiq wal Adab”, Juz 2)

Adapun sikap yang pertama adalah Tsiqah (percaya). Tsiqah (percaya) kepada Allah Azza wa Jalla, artinya membenarkan apa-apa yang diperintah, dikabarkan, dan dijanjikan Allah Azza wa Jalla kepada kita. Karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla adalah sebaik-baik perkataan, sebaik-baik penepat janji, dan Dia tidak pernah sedikitpun menyalahi akan janjinya. Firman Allah Azza wa Jalla,

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا وَعْدَ اللَّـهِ حَقًّا وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّـهِ قِيلًا

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, mereka akan Kami masukkan ke dalam surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari Allah?”

(QS. An Nisa: 122)

Kemudian sikap yang kedua adalah Tawakkal. Tawakkal kepada Allah Azza wa Jalla adalah sesuatu yang dituntut selain kita melakukan usaha sebagai sebuah kausalitas. Tawakkal bukan sikap pasrah. Tawakkal adalah merupakan sikap keyakinan hati, keimanan, bahwa hanya Allah Azza wa Jalla satu-satunya Dzat yang layak dijadikan sandaran, dan penentu atas segala keberhasilan yang kita usahakan. Allah Azza wa Jalla berfirman,

(وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ).

“Dan hanya kepada Allah kalian bertawakkal, jika kalian orang-orang yang beriman.”

(QS. Al Maidah: 23)

Kemudian sikap yang ketiga adalah Ikhlas. Sikap ikhlas ini dituntut dalam segala perkataan, perbuatan, dan serangkaian amal ibadah lainnya. Hanya kepada Allah Azza wa Jalla segala perkataan dan berbuatan kita persembahkan. Allah Azza wa Jalla berfirman,

فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Maka beribadahlah kalian kepada Allah dengan penuh keikhlasan, baginya agama ini, walaupun orang-orang kafir membenci.”

(QS. Ghaafir: 14)

Dan yang terakhir, yang ke empat adalah Ma’rifat kepada Allah Azza wa Jalla. Ma’rifat kepada Allah Azza wa Jalla, yakni segala pengetahuan dan wawasan kita yang meniadakan kebodohan. Siapa saja yang memiliki pengetahuan yang mendalam akan berbeda dengan orang yang bodoh. Siapa yang mengetahui tidak seperti orang yang tidak mengetahui. Orang berilmu berbeda dengan orang yang tidak berilmu. Allah Azza wa Jalla berfirman,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahhui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya hanyalah orang yang bepengetahuan yang akan mengambil pelajaran.”

(QS. Az Zumar: 9)

WhatsApp us