Di dunia ini bisa jadi sesuatu yang benar dianggap salah dan yang salah dianggap benar. Standar kebenaran yang paling benar adalah standar dari Allah Azza wa Jalla. Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda bahwa akan datang pada suatu zaman di mana pendusta dianggap pahlawan, sehingga kebenaran pun akan susah untuk di temukan…

سَيَأتِي عَلَى النَّاس سَنَوَات خَدَّاعَات، يُصَدَّق فِيهَا الكَاذِب ويُكَذَّب فِيهَا الصَّادِق، ويُؤْتَمَن فِيهَا الخَائِن ويُخَوَّن فِيهَا الأَمِين، ويَنْطِق فِيهَا الرُّوَيْبِضَة، قِيْلَ: ومَا الرُّوَيْبِضَة؟ قَالَ: الرَّجُل التَّافِه في أمْر العَامَّة

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya, di mana pendusta dipercaya dan orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah dan orang yang amanah dikhianati, dan berbicara di zaman itu para Ruwaibidhah.” Ditanyakan, siapakah Ruwaibidhah itu? Beliau bersabda, “Orang bodoh yang berbicara dalam masalah umum.”

(HR. Al-Hakim)

Hindarilah berdusta dan jauhilah orang-orang pendusta. Jadilah orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh. Jika Allah Azza wa Jalla ridha kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh pasti surgapun akan di dapatkan. Allah Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.”

جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.”

(QS. Al Bayyinah: 7-8)

Jagalah dan rawat kesucian Aqidah atau keimanan kita. Di dalam shalat kita mengulang-ngulang membaca surat Al Fatihah, salahsatunya ayat kelima yang berbunyi: ”

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.”

(QS. Al Fatihah: 5)

Itu adalah janji kita kepada Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla itu ridha kepada orang-orang yang hanya menghamba kepada-Nya. Dalam kehidupan pasti setiap orang mempunyai masalah baik kelebihan ataupun kondisi kekurangan. Maka orang-orang yang senantiasa menjaga aqidahnya pasti akan mengadukan semua itu hanya kepada Allah tidak kepada selain-Nya. Dan _na’udzubillaah_ ketika seseorang itu meminta kepada selain Allah Azza wa Jalla jika tidak bertaubat kemudian terbawa mati maka Allah tidak akan mengampuni dosa syirik tersebut,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.”

(QS. An Nisa: 116)

Cara agar kita agar lebih memahami aqidah ini adalah dengan cara banyak belajar dan berusaha untuk memahami agama Islam ini,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.”

(QS. Muhammad: 19)

Dengan mempelajari Al Qur’an, menyeru manusia ke jalan kabaikan itu adalah contoh di antaranya menolong agama Allah Azza wa Jalla sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Seperti para Nabi-Nabi terdahulu,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا أَنْصَارَ اللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّينَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ ۖ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ ۖ فَآمَنَتْ طَائِفَةٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَكَفَرَتْ طَائِفَةٌ ۖ فَأَيَّدْنَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَىٰ عَدُوِّهِمْ فَأَصْبَحُوا ظَاهِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.”

(QS. Ash-Shaff: 14)

Bersungguh-sungguh dan ikhlaslah dalam beramal. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”

(QS. Al Bayyinah: 5)

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

(QS. Al Mulk: 2)

Kita harus ikhlas dalam mentaati perintah Allah Azza wa Jalla dengan menjalankan segala perintah-Nya, seperti melaksanakan shalat, menunaikan zakat serta jalan yang lurus, artinya jauh dari kesyirikkan dan kesesatan…

Kendalikanlah hawa nafsu kita, karena dalam diri kita ada dua dorongan nafsu yang saling tarik menarik dari awal hidup sampai dengan kita mati. Yaitu dorongan nafsu baik dan nafsu buruk. Jika kita ingin mendapatkan ridha Allah Azza wa Jalla, maka kita harus berjuang untuk mengendalikan nafsu buruk yang telah melekat pada diri kita. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,”

فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

“Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).”

(QS. An-Naz’iat: 40-41)

Seorang Muslim senantiasa mengharapkan ridha Allah Azza wa Jalla dalam setiap sepak terjang aktifitasnya. Sebab ia tahu bahwa hanya dengan memperoleh ridha Allah Azza wa Jalla sajalah hidupnya menjadi lurus, terarah dan benar…

Seorang Muslim yang mengejar ridha Allah Azza wa Jalla berarti menjadi seorang beriman yang ikhlas. Orang yang ikhlas dalam beramal merupakan orang yang tidak bakal sanggup diganggu apalagi dikalahkan oleh syetan. Allah Azza wa Jalla menjamin hal ini berdasarkan firman-Nya di mana dedengkot syetan saja, yakni Iblis, mengakui ketidak-berdayaannya menyesatkan hamba-hamba Allah Azza wa Jalla yang mukhlis,

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ
وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.”

(QS. Al-Hijr: 39-40)

Orang-orang yang telah menjadikan ridha Allah Azza wa Jalla semata sebagai tujuan hidupnya tidak mungkin dapat disimpangkan dari jalan yang benar. Mereka tidak mempan diiming-imingi dengan kenikmatan apapun di dunia ini. Sebab mereka sangat yakin bahwa kenikmatan jannah (surga) yang Allah Azza wa Jalla janjikan bagi mereka tidak bisa disetarakan apalagi dikalahkan oleh kenikmatan duniawi bagaimanapun bentuknya. Harta, tahta maupun wanita tidak mungkin mereka dahulukan dari pada kenikmatan ukhrawi surgawi yang Nabi Muhammad shallallahu ’alaih wa sallam sendiri gambarkan sebagai berikut,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّه
أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ
وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shallallahu ’alaih wa sallam bersabda, Allah berfirman: “Aku telah sediakan untuk hamba-hamba-Ku yang shaleh apa-apa yang tidak pernah mata memandangnya, dan tidak pernah telinga mendengarnya dan tidak pernah terbersit di dalam hati manusia.”

(HR. Bukhary)

Hamba-hamba Allah Azza wa Jalla yang mukhlis kebal terhadap berbagai ancaman manusia berupa siksa dan penderitaan duniawi apapun, karena bagi mereka tidak ada yang lebih menakutkan dari pada ancaman Allah Azza wa Jalla berupa siksaan dan penderitaan hakiki di dalam neraka di akhirat kelak…

Orang-orang yang sibuk menggapai Ridha Allah Azza wa Jalla semata dalam hidupnya sangat meyakini bahwa hanya Allah Azza wa Jalla sajalah yang patut di jadikan prioritas utama kecintaan, kepatuhan, ketundukan dan rasa takut…

Orang-orang yang mukhlis tidak lagi menyisakan di dalam diri mereka kepercayaan akan Liberalisme, Sekularisme, Kapitalisme, Sosialisme, Hedonisme apalagi Komunsime. Semua jalan hidup itu bagi mereka tidak menjamin akan mendatangkan keridhaan Alllah Azza wa Jalla. Padahal mereka sudah sangat yakin bahwa hidup tanpa keridhaan Allah Azza wa Jalla adalah kehidupan yang merugi dan penuh kesia-siaan…

Setiap orang ingin merasa bahagia. Hanya saja tidak semua orang tahu bagaimana cara meraih kebahagiaan. Ada yang berfikir bahwa bahagia bisa dirasakan ketika seseorang memiliki banyak harta. Dengan harta yang melimpah, kekuasaan mudah didapat, segala kebutuhan jasmani dan rohani bisa terpenuhi. Kebahagiaan bisa dibeli, begitu kira-kira. Pola pikir semacam ini keliru. Tidak perlu jauh-jauh untuk membuktikannya, lihat saja ke sekeliling kita, atau bacalah berita di berbagai media massa. Jika harta yang dijadikan tujuan untuk bisa merasa bahagia, maka hasilnya bisa dilihat: korupsi di mana-mana, pencurian, perampokan, dan penipuan selalu terjadi berulang-ulang. Sebagian lain menyangka bahwa kebahagiaan itu hanyalah fatamorgana, khayalan, dan ilusi manusia semata…

Kenyataan hidup yang mereka alami tidak pernah membuktikan adanya kebahagiaan yang bertahan lama. Semua serba sesaat dan sementara belaka. Dugaan yang seperti ini kemudian melahirkan manusia-manusiayang mengejar pemuasan hawa nafsu. Ketika nafsu itu terpenuhi mereka merasa puas dan bahagia, meski hanya sesaat. Hasilnya dapat kita lihat: perzinaan, penyalahgunaan narkoba, mabuk-mabukan, dan penyimpangan moral lainnya merebak di mana-mana.

Salah satu cara agar kita bisa merasakan kebahagiaan yang hakiki adalah dengan ridha Allah Azza wa Jalla. Kalau Allah Azza wa Jalla ridha, maka kehidupan kita seluruhnya adalah kebahagiaan, baik itu duniawi dan ukhrawi. Jalan untuk mencapai ridha Allah Azza wa Jalla adalah dengan cara membuat diri kita sendiri ridha dengan semua ketentuan Allah Azza wa Jalla…

WhatsApp us