Sebagai umat Muslim, semestinya kita bisa bersikap tegas terhadap segala bentuk anarkisme, menjaga kedamaian, senantiasa berhati-hati dan berpikir seribu kali dalam berucap dan berbuat sehingga tak ada yang menyakiti, melukai, serta menciderai hati dan fisik orang lain. Marilah kita meneladani Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi was salam yang memiliki kepribadian mempesona, akhlak luhur dan mulia yang menjadi salah satu faktor kesuksesan dakwahnya. Semua orang merasa senang dan damai berada di sisinya atau di majelisnya. Beliau adalah penebar kasih sayang dan kedamaian…

Allah Azza wa Jalla sengaja menciptakan keberagaman agar manusia saling menghormati dan menghargai, dan inklusivitas menjadi keharusan. Ada beberapa prinsip yang selalu diajarkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi was salam dan para sahabatnya untuk membangun Islam yang rahmatan lil alamin…

Pertama, _at-tawassuth_ atau sikap di tengah-tengah, moderat, mendamaikan, mengharuskan umat Islam menjadi panutan atau ukuran penilaian atas sikap dan perbuatan…

Kedua, _at-tawazun_ atau seimbang dalam segala hal, ketiga _al-i’tidal_ yakni tegak lurus atau adil karena Islam datang untuk menyamakan kedudukan manusia dalam peradilan dan hukum. Keempat, _tasamuh_ atau toleransi. Menghargai perbedaan dan menghormati orang yang memiliki prinsip hidup tidak sama. Namun, bukan berarti mengakui atau meneguhkan keyakinan yang berbeda.

Prinsip kelima, _ta’awun_ yaitu tolong menolong, dan keenam adalah _akhlakul karimah_ dalam berinteraksi dengan orang-orang yang sejalan dan berselisih…

Agama Islam sebagai agama yang mencintai perdamaian telah mengajarkan _tasamuh_ (toleransi) kepada umatnya. Kita harus mewaspadai tumbuhnya sikap anarkisme yang memaksakan kehendak dengan cara kekerasan…

Agama Islam merupakan agama damai yang memiliki karakter anti kekerasan dan anti kerusakan. Sikap anarkisme bukanlah cerminan agama Islam, karena hal itu sama saja menjatuhkan diri dalam kebinasaan. Padahal segala perbuatan yang menjatuhkan diri dalam kebinasaan itu dilarang oleh Allah Azza wa Jalla, sebagaimana firman-Nya,

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”.

(QS. Al Baqarah: 195)

Justru kita diperintahkan untuk senantiasa berbuat baik oleh Allah Azza wa Jalla dan sesunghuhnya Allah Azza wa Jalla menyukai orang-orang yan berbuat baik. Kebaikan cakupannya luas, mulai dari hubungan manusia dengan Rabb nya ( _hablumminallah_ ), hingga hubungan antar sesama manusia ( _hablumminannas_ ), kepada sesama makhluk hidup (hewan, tumbuhan) juga kepada lingkungan hidup baik di lingkup terkecil maupun terbesar. Kebaikan untuk tidak menyakiti hubungan-hubungan kita itu. Karena manusia adalah makhluk sosial (الإنسان مدني بطبعه).

Takwa pun cakupannya luas, seluas makna generiknya yaitu menghindarkan diri dari sesuatu yang berbahaya ( _ittiqa, wiqayah_ ). Bahaya murka Allah Azza wa Jalla di dunia dan akhirat, bahaya siksa api neraka di akhirat kelak, bahaya azab kubur, bahaya _su’ul khatimah_, bahaya kezaliman kepada dirinya dan kepada sesama yang akan berbalik kepada dirinya sendiri…

Beriman perlu nalar ilmu, sebagaimana ilmu perlu nalar iman. Jangan sekali-kali kita memisahkan keduanya. Jika itu terjadi maka akan berbuah bencana bagi agama dan masyarakat. Hal ini juga mendasarkan pada dalil _Darul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih_ (menghindari kemudharatan lebih diutamakan ketimbang mendatangkan kemaslahatan)…

WhatsApp us